IHSG Pekan 23–27 Februari 2026: Volume Transaksi Melonjak, IHSG Stabil Meski Tekanan Asing Meningkat

IHSG Pekan 23–27 Februari 2026: Volume Transaksi Melonjak, IHSG Stabil Meski Tekanan Asing Meningkat

trading sekarang

Pekan perdagangan BEI 23—27 Februari 2026 menghadirkan dinamika berbeda antara IHSG dan aktivitas perdagangan. Berdasarkan data BEI, IHSG berakhir naik sebesar 0,44 persen, ditutup di level 8.235,485 setelah menanjak dari 8.271,767 pada pekan sebelumnya. Meski demikian, pasar tetap dihantam oleh volatilitas yang lazim seiring perubahan sentimen investor domestik maupun dampak eksternal yang memengaruhi arus modal. Kontur pergerakan pekan ini menjadi isyarat penting bagi pelaku pasar untuk menyusun strategi di masa mendatang. Cetro Trading Insight menilai adanya keseimbangan antara peluang dan risiko yang perlu diwaspadai investor ritel maupun institusional.

Sementara itu, nilai transaksi harian rata-rata menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 25,35 persen menjadi Rp29,52 triliun dari Rp23,89 triliun pekan sebelumnya. Angka ini mencerminkan lonjakan likuiditas yang bisa mendorong aktivitas beli maupun jual secara lebih intens. Investor perlu memantau bagaimana dinamika transaksi ini berdampak pada sektor-sektor berbeda dalam indeks akibat perubahan preferensi pelaku pasar jelang rilis data makro selanjutnya. Secara umum, peningkatan likuiditas menjadi sinyal bahwa pasar berada dalam fase konsolidasi dengan peluang pergerakan yang lebih tajam di beberapa saham pilihan.

Pada sisi volume, rata-rata volume transaksi harian meningkat 8,55 persen menjadi 51,02 miliar saham dari 47 miliar saham pekan sebelumnya. Sementara itu, frekuensi transaksi harian turun 3,72 persen menjadi 2,95 juta kali transaksi. Hal ini menandakan adanya pergeseran tren trading: investor cenderung menahan posisi dan melakukan transaksi dengan ukuran yang lebih besar, alih-alih melakukan banyak transaksi kecil. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar BEI tercatat turun 1,03 persen menjadi Rp14.787 triliun dari Rp14.941 triliun pekan lalu.

IndikatorNilaiKeterangan
IHSG8.235,485Perubahan mingguan +0,44%
Nilai transaksi harian rata-rataRp29,52 triliunNaik 25,35%
Volume harian rata-rata51,02 miliar sahamNaik 8,55%
Frekuensi harian2,95 juta transaksiTurun 3,72%
Kapitalisasi pasarRp14.787 triliunTurun 1,03%
Nilai jual bersih asing (peringkat mingguan)Rp694,22 miliarJual bersih di akhir pekan
Nilai jual bersih asing (2026)Rp9,51 triliunSejak awal 2026

Peningkatan likuiditas terlihat jelas dari kenaikan nilai transaksi harian yang menunjukkan minat trading yang lebih besar di kalangan pelaku pasar. Meski demikian, frekuensi transaksi harian mengalami penurunan, mencerminkan pergeseran fokus investor menuju perdagangan dengan ukuran lebih besar daripada frekuensi yang lebih tinggi. Perkembangan ini dapat mempengaruhi volatilitas jangka pendek bagi saham-saham likuid dan permintaan terhadap saham berkapitalisasi besar.

Rasio antara volume dan frekuensi mengindikasikan adanya perubahan dinamika pasar. Volume yang meningkat bersama penurunan frekuensi menandakan aktivitas investasi yang lebih terarahkan pada posisi sektor tertentu atau saham with high ticket size. Investor perlu mencermati rekomendasi portofolio dan potensi pergeseran sektor ketika likuiditas sedang melonjak, karena perubahan arus modal bisa memicu pergerakan harga yang lebih tajam pada beberapa saham unggulan.

Secara makro, kapitalisasi pasar mengalami penurunan meskipun nilai transaksi meningkat. Hal ini mencerminkan tekanan dari faktor eksternal, terutama aliran modal asing, serta dinamika supply-demand yang tidak sejalan secara serentak. Pelaku pasar disarankan memonitor perubahan indikator teknikal dan fundamental secara simultan untuk menilai arah jangka pendek hingga menengah. Cetro Trading Insight akan terus memantau tren likuiditas untuk membantu pembaca mengidentifikasi peluang maupun risiko secara tepat.

Aliran Modal Asing dan Implikasi Kebijakan

Aliran modal asing tetap menjadi faktor penentu arah pasar pekan ini. Pada penutupan Jumat, 27 Februari 2026, asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp694,22 miliar, menambah beban terhadap sentimen pasar domestik. Tren jual bersih ini juga terlihat sepanjang 2026 dengan total Rp9,51 triliun, menunjukkan adanya tekanan berkelanjutan dari sisi eksternal terhadap pasar saham Indonesia.

Ketika arus modal keluar, investor domestik perlu menilai potensi tekanan terhadap saham berkapitalisasi besar dan sektor yang sensitif terhadap aliran asing. Secara teknikal, perubahan IHSG yang relatif tipis pekan ini bisa menjadi sinyal kehati-hatian bagi trader jangka pendek. Pelaku pasar disarankan untuk meninjau level support-resistance pada indeks utama dan mempertimbangkan diversifikasi risiko di tengah ketidakpastian aliran modal asing.

Rekomendasi bagi investor adalah menjaga manajemen risiko dengan memperhatikan rasio risiko-imbalan minimal 1:1,5 jika pasar menunjukkan arah baru. Dengan sinyal pasar yang netral, diversifikasi portofolio dan penempatan posisi secara terukur menjadi strategi yang lebih bijak. Cetro Trading Insight akan terus memantau perkembangan aliran modal serta peluang di pasar saham Indonesia untuk membantu pembaca membuat keputusan yang terinformasi.

broker terbaik indonesia