IHSG menunjukkan dinamika menarik setelah beberapa pekan bergejolak akibat sentimen MSCI. Pemulihan ini muncul meski volatilitas tetap tinggi dan aliran modal asing masih menjadi sorotan utama pelaku pasar. Analisis di Cetro Trading Insight menilai momentum saat ini lebih condong ke arah rebound teknikal dengan dukungan valuasi yang lebih menarik daripada sebelumnya.
Penutupan IHSG berada di level 8.274,08 pada Kamis, 19 Februari 2026, setelah sempat turun ke kisaran intraday 7.481,99 pada 29 Januari. level tersebut menggambarkan volatilitas tinggi yang sering dipicu oleh perubahan kebijakan global maupun penyesuaian portofolio investor institusional.
Di tengah pemulihan, tekanan dari pelaku asing tetap terasa secara net sell sebesar Rp3,77 triliun dalam sepekan terakhir. Kondisi ini menegaskan bahwa meski ada peluang rebound, arah pasar tetap memerlukan kehati-hatian karena dinamika aliran modal bisa berubah dengan cepat.
Pengumuman MSCI terkait peninjauan komposisi pasar memicu reaksi jual besar-besaran pada saham-saham konglomerasi, meski kemudian pasar mulai mencoba menata ulang posisi. BCA Sekuritas menilai isu transparansi pasar menjadi faktor utama yang mendorong pelebaran volatilitas di segmen ini.
Analisis dari berbagai lembaga menekankan bahwa respons pasar bukan sekadar koreksi teknikal, melainkan sinyal adanya kerentanan fundamental di sisi makro yang perlu diamati lebih lanjut. Pemerintah dan otoritas terkait mulai menyiapkan langkah-langkah untuk meningkatkan kepercayaan investor dalam jangka menengah.
Di sisi investor, kebijakan BEI untuk memperluas klasifikasi investor dan rencana daftar konsentrasi pemegang saham dipandang sebagai langkah transparansi yang bisa memberi panduan lebih jelas bagi alokasi modal ke depan.
Beberapa saham konglomerasi menunjukkan pemulihan signifikan dalam pekan terakhir. BUMI, yang terafiliasi dengan grup Bakrie dan Salim, menguat sekitar 11,11 persen menjadi Rp300 per unit, setelah sebelumnya jatuh ke Rp198 pada awal Februari. Pergerakan ini menandai minat pembeli kembali meski level harga masih jauh dari kisaran pra-pegantungan MSCI.
DEWA mengalami lonjakan sekitar 13,27 persen dalam pekan yang sama, diperdagangkan di Rp640 setelah sempat turun ke kisaran Rp400. Sementara RAJA berada di sekitar Rp4.950 per unit, mendekati level sebelum pengumuman MSCI, yaitu sekitar Rp5.400 pada 27 Januari. PTRO juga menunjukkan rebound dengan harga Rp7.325, meski masih di bawah level pra-MSCI Rp8.575 pada 27 Januari.
Analisis singkat menyebut bahwa peluang jangka pendek pada saham-saham konglomerasi tetap menarik bagi pelaku pasar. Namun, konsel-konsel terkait porsi free float dan tata kelola menjadi faktor kunci yang perlu diawasi untuk menjaga reli tetap sehat.
William Hartanto, pendiri WH Project, menilai pasar cenderung melupakan sentimen MSCI untuk sementara waktu dan memanfaatkan peluang rebound guna menutupi kerugian dari kejatuhan akhir Januari. Dalam konteks ini, beberapa saham dianggap menarik untuk strategi jangka pendek, khususnya BUMI, DEWA, PTRO, RAJA, dan RATU.
Pengamat lain menyoroti tekanan dari porsi free float. Michael Yeoh menyatakan bahwa konglomerasi tetap berada di bawah tekanan jika struktur kepemilikan tidak dibenahi, sehingga investor perlu memilih saham dengan potensi perbaikan tata kelola yang visible.
Nafan Aji Gusta Utama dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia berargumen bahwa rebound belakangan ini memiliki fondasi teknikal yang kuat, didukung valuasi yang sudah tertekan. Ia menekankan perlunya transparansi dan tata kelola yang lebih baik agar reli dapat berlangsung berkelanjutan.
Cetak biru kebijakan BEI, OJK, dan KSEI baru-baru ini menekankan perlunya daftar konsentrasi pemegang saham untuk memperkuat transparansi dan integritas pasar. Rencana tersebut, yang dibahas dalam pertemuan BEI dengan MSCI, diharapkan dapat memberikan kerangka kerja yang lebih jelas bagi pelaku pasar dalam menilai risiko kepemilikan dan volatilitas harga.
Sejalan dengan praktik di Hong Kong melalui SFC, daftar konsentrasi pemegang saham di Indonesia diakui sebagai alat peringatan, bukan sanksi, terhadap potensi lonjakan harga akibat kepemilikan terkonsentrasi. Fungsi utamanya adalah membantu investor membuat keputusan lebih hati-hati, terutama saat harga cenderung melambung di kalangan terbatas.
Indopremier Sekuritas menyoroti arti penting data konsentrasi pemegang saham sebagai acuan non-teknikal dalam menilai risiko. Target pengumpulan data rinci diperkirakan selesai pada Maret 2026, sementara jadwal rilis daftar konsentrasi belum diungkapkan. Kesepakatan ini diharap mampu meningkatkan kepercayaan investor jangka menengah hingga panjang.