Adira Dinamika Multifinance (ADMF) Pasca Merger dengan Mandala: Laba Terkoreksi, Likuiditas Menjadi Tantangan

Adira Dinamika Multifinance (ADMF) Pasca Merger dengan Mandala: Laba Terkoreksi, Likuiditas Menjadi Tantangan

trading sekarang

Dalam era perubahan strategi pembiayaan Indonesia, Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) melanjutkan kisahnya pasca merger dengan Mandala Multifinance. Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight, untuk membekali investor dengan gambaran jelas tentang kinerja, likuiditas, dan potensi risiko yang tersembunyi di balik angka-angka laporan 2025. Mari kita telaah bagaimana dinamika laba, arus kas, dan posisi aset-liabilitas membentuk peluang dan ancaman bagi para pemegang saham.

Merger dengan Mandala Multifinance membawa perubahan signifikan pada laporan keuangan ADMF. Laba bersih 2025 tercatat Rp1,54 triliun, turun 15% dibanding restatement laba 2024 sebesar Rp1,81 triliun, menunjukkan tantangan integrasi yang masih berlanjut. Di sisi lain, pendapatan perusahaan tumbuh moderat seiring peningkatan aktivitas pembiayaan dan ruang margin.

Pendapatan total mencapai Rp12,1 triliun, naik 2,9% secara tahunan, dengan segmen pembiayaan konsumen berkontribusi Rp7,6 triliun dan margin murabahah Rp1,7 triliun. Analisis kami menunjukkan bahwa kinerja segmen pembiayaan konsumen tetap menjadi penggerak utama, meskipun tekanan laba bersih berasal dari biaya operasional dan penyelarasannya pasca merger. Segmen sepeda motor menyumbang Rp3,93 triliun, sedangkan mobil Rp1,5 triliun dan barang tahan lama Rp2,1 triliun.

Adira menyalurkan pembiayaan sepanjang 2025 sebesar Rp25,7 triliun dengan outstanding pembiayaan Rp60 triliun, sementara piutang pembiayaan murabahah tercatat Rp5,5 triliun. Angka-angka ini menegaskan posisi ADMF sebagai salah satu pelaku utama pembiayaan konsumen di dalam negeri, meski tantangan profitabilitas perlu dikelola melalui optimisasi biaya dan kualitas kredit. Secara segi segi volatilitas cicilan dan portofolio, sektor kendaraan bermotor tetap menjadi kontributor terbesar.

Beban operasional perusahaan meningkat 6,3% menjadi Rp10,1 triliun, terutama didorong gaji dan tunjangan sebesar Rp3,3 triliun (+15%). Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) stabil pada kisaran Rp1,9 triliun, menandakan manajemen risiko masih terjaga meski tekanan ukuran pembiayaan membesar. Perubahan komposisi biaya operasional ini mengindikasikan upaya ADMF dalam menjaga kualitas layanan sambil memperkuat struktur biaya pasca merger.

Arus kas dari aktivitas operasi tercatat Rp453 miliar, meningkat 64% dibanding periode sebelumnya, didorong oleh kinerja pembiayaan yang naik 5% menjadi Rp54,2 triliun. Kenaikan arus kas operasional memberikan sinyal bahwa operasi inti tetap sehat meski laba bersih terpukul. Namun, gambaran likuiditas menunjukkan dinamika berbeda di sisi kas yang perlu diatasi melalui manajemen modal kerja yang lebih efisien.

Kas dan setara kas turun 58% dari Rp1,96 triliun menjadi Rp822 miliar, disebabkan pembayaran pinjaman bank sebesar Rp13,4 triliun dan pembayaran pokok utang obligasi Rp2,7 triliun. Adira juga membayar dividen tunai sebesar Rp982 miliar pada tahun 2025. Penurunan likuiditas ini menambah fokus pada kemampuan ADMF menjaga likuiditas jangka pendek sambil menjaga kelangsungan pembiayaan tanpa membebani arus kas.

Aset, Liabilitas, dan Implikasi bagi Investor ADMF

Posisi aset ADMF tetap stabil di kisaran Rp38 triliun berkat peningkatan piutang pembiayaan yang naik 8% menjadi Rp25,7 triliun, meski tekanan pada likuiditas membentuk risiko likuiditas. Liabilitas juga stabil di sekitar Rp23 triliun, dengan ekuitas mencapai Rp15 triliun, menunjukkan struktur modal yang relatif sehat meski terdapat risiko siklus pembiayaan.

Kondisi ini menempatkan fokus pada kualitas aset dan kemampuan perusahaan menjaga rasio CKPN. Dengan segmen pembiayaan konsumen yang tetap dominan, investor perlu memantau potensi penurunan kualitas kredit yang bisa memperberat beban CKPN ke depannya. Adira perlu memitigasi risiko likuiditas untuk menjaga kelangsungan pembiayaan tanpa membebani arus kas.

Meski laba menurun, arus kas operasional yang membaik memberi peluang bagi ADMF untuk mengoptimalkan struktur biaya dan melanjutkan program pembiayaan. Dari sisi strategi, merger diharapkan memberi sinergi dalam pengelolaan portofolio dan biaya, namun risiko likuiditas dan tekanan laba tetap perlu diawasi para pemegang saham. Secara keseluruhan, ADMF menunjukkan fondasi yang kuat untuk menghadapi turbulensi siklus kredit sambil mencari peluang pertumbuhan di segmen pembiayaan kendaraan dan barang tahan lama.

broker terbaik indonesia