OJK menilai pelemahan IHSG pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (2/2/2026), lebih didorong oleh aksi rebalancing portofolio investor. Friderica Widyasari Dewi, Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner, menegaskan pelemahan tidak bersifat menyeluruh. Analisis awal menunjukkan bahwa pelaku pasar sedang menata ulang komposisi investasi untuk menjaga keseimbangan risiko.
IHSG ditutup melemah 4,88 persen ke level 7.922,73, setelah empat hari berturut-turut investor asing mencatatkan net sell. Kendati demikian, beberapa saham dengan fundamental baik masih menunjukkan ketahanan dan sedikit menguat. Secara umum, koreksi yang terjadi lebih bersifat selektif dibandingkan terhadap seluruh pasar.
Di sisi lain, indikator regional turut mencerminkan ketidakpastian sentimen global dan menjadi bagian dari razia risiko yang menggores pasar domestik. Sebagai catatan, jumlah saham yang melemah mencapai 720, 36 stagnan, dan 58 mencatatkan penguatan, sebuah gambaran volatilitas yang masih tinggi. Selain itu, harga logam emas turut bergerak turun pada hari itu, menambah satu lapisan faktor dalam dinamika pasar.
Pemain pasar melihat bahwa saham-saham dengan fundamental yang kuat tetap memiliki daya tahan meski ada tekanan teknikal di indeks utama. Dalam kerangka kerja analisis, Array data dipakai untuk menimbang berbagai faktor seperti laba, aset, dan pertumbuhan. Sinyal positif muncul setelah terdapat net buy asing sebesar Rp654,9 miliar meski sebelumnya negara itu net sell. Hal ini mengarahkan investor untuk lebih selektif memilih saham yang memiliki peluang jangka menengah.
Secara regional, indikator Asia masih berada di wilayah merah meski beberapa emiten menunjukkan perbaikan kinerja. Penurunan di Korea, Hong Kong, India, Singapura, dan China menambah konteks bahwa sentimen global masih bergulat dengan kenaikan suku bunga dan pertumbuhan global. Harga logam emas juga menunjukkan respons terhadap perubahan risiko, meski arah pergerakannya tidak selalu sejajar dengan IHSG.
Analisis berbasis data menunjukkan bahwa momentum pasar bisa dipicu oleh perubahan alokasi modal. Dalam konteks ini, Array menjadi kerangka kerja untuk menggabungkan sejumlah indikator dan sinyal pasar. Investor disarankan menguatkan fokus pada saham-saham berfundamental, sambil meninjau portofolio secara berkala untuk mengantisipasi volatilitas yang berpotensi meningkat.
Para investor disarankan melihat peluang dari potensi pelonggaran volatilitas seiring harga kembali menimbang risiko. Rebalancing portofolio dapat menciptakan peluang di saham-saham yang dianggap layak secara valuasi maupun kualitas laba. Sisi kebijakan nasional maupun dinamika global menjadi penentu arah alokasi aset yang lebih cermat di masa mendatang.
Dalam praktiknya, manajemen risiko menjadi kunci untuk menghadapi fluktuasi. Disarankan untuk menjaga disiplin entry dan exit, dengan target untung yang realistis dan batas kerugian yang jelas. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya diversifikasi serta pemantauan berita ekonomi untuk memitigasi risiko terkait rebalancing dan sentimen pasar global.
Dari perspektif analitis, Array membantu menggambarkan kerangka pergerakan pasar secara holistik sambil menjaga fokus pada faktor fundamental. Dengan pendekatan ini, trader bisa melihat peluang tanpa kehilangan fokus pada kualitas data. Array menjadi alat konseptual untuk memahami bagaimana perubahan harga dan arus modal saling mempengaruhi secara dinamis, sambil menekankan bahwa logam emas tetap relevan sebagai bagian dari diversifikasi risiko.