Imbal Hasil US10Y Menguat Pasca NFP 130K; Fed Diprediksi Tetap Ketat hingga CPI

Imbal Hasil US10Y Menguat Pasca NFP 130K; Fed Diprediksi Tetap Ketat hingga CPI

Signal /USYSELL
Open4.155
TP4.080
SL4.200
trading sekarang

Data Nonfarm Payrolls (NFP) AS menunjukkan penambahan 130 ribu pekerjaan, melampaui perkiraan sekitar 70 ribu. Angka ini menandakan bahwa pasar tenaga kerja tetap menunjukkan ketahanan meski inflasi masih tinggi. Laporan ini menjadi panduan bagi kebijakan bank sentral, dengan Cetro Trading Insight menilai sinyal pasar yang masih berhati-hati terhadap pelonggaran.

Tingkat pengangguran turun dari 4.4% menjadi 4.3%, lebih rendah dari ekspektasi Federal Reserve yang memandang angka sekitar 4.5% untuk tahun ini. Perubahan itu menambah tekanan pada pandangan mengenai kapan pelonggaran kebijakan bisa terjadi. Investor menimbang apakah data ini akan mendorong langkah pelonggaran bertahap di masa mendatang.

Imbal hasil obligasi AS di seluruh kurva bergerak lebih tinggi, dengan yield 10-tahun berada di sekitar 4.155% setelah rilis data NFP. Pergerakan ini menandakan pasar lebih fokus pada ketatnya kebijakan jangka menengah daripada pelonggaran segera. Dalam analisis Cetro Trading Insight, momentum ini dipandang konsisten dengan data tenaga kerja yang kuat dan risiko inflasi yang tetap relevan.

Komentar hawkish dari Presiden Kansas City Fed Jeffrey Schmid menegaskan bahwa kebijakan tetap restriktif jika inflasi berada di sekitar 3%. Meski inflasi terlihat lebih lunak, pernyataannya menambah risiko terhadap pemangkasan sebelum waktunya. Analisis dari Cetro Trading Insight menilai sikap ini bisa menjaga imbal hasil obligasi pada level yang lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Pasar memangkas ekspektasi pemangkasan hingga Juli 2026, menimbang bahwa pemangkasan besar kemungkinan tertahan di awal. Pergerakan ini mencerminkan perubahan persepsi mengenai durasi kebijakan ketat dan menyoroti pentingnya data inflasi yang lebih segar. Pelaku pasar tetap waspada terhadap kejutan data yang bisa mengubah jalur kebijakan.

Dolar AS melemah terhadap enam mata uang utama, memberi ruang bagi aset berisiko termasuk logam mulia untuk bergerak lebih leluasa. Penurunan DXY menambah dinamika di pasar obligasi dan saham global, meski tanda-tanda volatilitas masih terlihat menjelang rilis CPI. Katalis teknikal dan fundamental keduanya membentuk gambaran pasar yang lebih beragam.

Dolar AS turun sekitar 0,14 persen, melemah ke sekitar 96,75 terhadap keranjang enam mata uang utama, menciptakan suasana pasar yang lebih ramah untuk aset berisiko. Pergerakan ini juga memberi tekanan pada imbal hasil obligasi dan memberi ruang bagi pergerakan harga emas pada beberapa sesi mendatang. Analisis dari Cetro Trading Insight menekankan bahwa momentum ini bisa berlanjut jika data inflasi menunjukkan pelemahan lebih lanjut.

Breakeven inflasi 5-tahun turun dari sekitar 2,5% menjadi 2,47%, menunjukkan pasar menilai inflasi menurun menuju target 2% Fed dalam jangka menengah. Penurunan ini menambah dukungan bagi argumen tidak ada lonjakan kebijakan mendesak di dekat waktu dekat. Para analis menganggap perubahan ini sebagai sinyal positif bagi stabilitas harga jangka menengah.

Investor menantikan data CPI Januari, dengan ekspektasi headline dan core inflation turun dari 2.7% dan 2.6% YoY menjadi sekitar 2.5% keduanya. Rilis tersebut dinilai dapat menentukan arah bagi imbal hasil dan dolar pada sesi berikutnya, sambil menjaga volatilitas yang moderat. Pasar juga memantau klaim pengangguran awal dan pidato pejabat Fed untuk konteks tambahan terhadap jalur kebijakan.

broker terbaik indonesia