Disusun oleh Cetro Trading Insight
Analisis yang dirilis oleh analis FX & Commodity di sebuah lembaga keuangan menyoroti kekuatan impor logam utama China meski ada tekanan biaya. Implikasi terhadap harga dan pasokan global perlu dicermati oleh pelaku pasar karena dinamika permintaan domestik tetap relevan.
Data menunjukkan bahwa impor bijih besi naik 10% secara year-on-year pada Januari hingga Februari, menandai kelanjutan permintaan baja dalam negeri. Sementara itu, impor tembaga ore dan konsentrat naik sekitar 4,9% YoY dengan volume sekitar 2,5 juta ton per bulan, meski dibandingkan bulan sebelumnya levelnya sedikit lebih rendah. Periode awal tahun biasanya lebih lemah karena perayaan libur Imlek.
Di sisi lain, impor tembangan mentah dan produk tembaga turun sekitar 16% YoY menjadi sekitar 350 ribu ton per bulan. Meskipun demikian, data impor menunjukkan bahwa produksi tembaga China terus meningkat, meski biaya perlakuan negatif pada Februari membuat smelter membayar premi kepada tambang untuk hak memproses tembaga. Kombinasi permintaan domestik dan biaya produksi yang relevan menjadi gambaran pasar saat ini.
| Indikator | Perubahan |
|---|---|
| Impor bijih besi | +10% YoY (Jan–Feb) |
| Impor tembaga ore & konsentrat | +4,9% YoY |
| Impor tembangan mentah/produk tembaga | -16% YoY |
Selain dinamika impor Cina, laporan juga menyoroti risiko pasokan sulfur yang berasal dari wilayah Teluk. Pembatasan aliran sulfur terkait tekanan pada sanksi Iran dapat mempengaruhi ketersediaan asam sulfat untuk Congo, yang memanfaatkan bahan kimia ini dalam proses pertambangan.
Pengaruhnya terlihat pada potensi masalah produksi tambang tembaga Congo, yang saat ini berkontribusi sekitar 14% terhadap output global. Jika sulfur tidak dapat mengalir lancar melalui jalur utama, kegiatan tambang di Congo berpotensi mengalami gangguan dalam beberapa pekan mendatang.
Dalam konteks ini, dinamika pasokan logam global menjadi lebih bergejolak. Permintaan tembaga dari Cina diperkirakan tetap kuat, namun potensi gangguan pasokan bahan penunjang seperti sulfur bisa menambah volatilitas harga dan menuntut perhatian investor serta manajemen risiko pasar komoditas.
| Faktor | Implikasi |
|---|---|
| Pengiriman sulfur via Hormuz | Risiko pasokan asam sulfat Congo meningkat |
| Tambang Congo (14% output global) | Potensi gangguan produksi jika pasokan terganggu |