Indeks Dolar AS (DXY) bergerak positif dan mendekati level 99,15 pada awal sesi Eropa. Pergerakan ini mencerminkan permintaan terhadap USD di tengah ketidakpastian kebijakan moneter. Meski demikian, pasar tetap menilai independensi The Fed di bawah kepemimpinan Trump dengan skeptis. DXY berada di sekitar 99,15, menambah tekanan pada mata uang lain yang sensitif terhadap risiko.
Laporan penjualan ritel AS untuk November menunjukkan peningkatan 0,6% MoM, lebih tinggi dari estimasi 0,4%. Angka ini menunjukkan ekonomi konsumen masih bertahan meski inflasi tetap menjadi fokus. Sementara itu, para pedagang menunggu laporan klaim tunjangan pengangguran awal untuk menilai arah pasar tenaga kerja. Rilis data pekerjaan ini dapat memperkuat ekspektasi tentang jalur kebijakan The Fed ke depan.
Dalam konteks kebijakan, beberapa pejabat The Fed akan berbicara menjelang pertemuan berikutnya, menambah dinamika pasar. Pasar juga memantau peluang pemotongan suku bunga pada pertemuan Januari meski probabilitasnya rendah. Terlebih lagi, pernyataan Ketua Powell tentang tekanan politik terhadap independensi bank sentral menambah ketidakpastian arah dolar. Secara umum, pasar menimbang bagaimana data kuat dan komentar pejabat dapat membentuk prospek dolar dalam jangka pendek.
Laporan Biro Statistik Tenaga Kerja menunjukkan Indeks Harga Produsen (IHP) naik 3,0% YoY pada November, melampaui perkiraan 2,7%. Angka ini menandakan tekanan inflasi pada tingkat produsen yang tetap tinggi. Setelah mengeluarkan makanan dan energi, harga produsen inti juga naik 3,0% YoY untuk bulan November, sedikit di atas ekspektasi 2,7%. Data ini memperlihatkan inflasi pada jalur produksi tetap kuat, menambah tantangan bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga.
Kenaikan output input akan memengaruhi biaya produksi dan harga jual ke konsumen. Investor menilai bahwa tingginya tekanan pada input dan kebijakan pengetatan likuiditas bisa mempertahankan dinamika harga secara luas. Dengan demikian, risiko inflasi yang lebih tinggi mendorong pasar untuk mempercayai jalur kebijakan yang lebih hawkish bagi bank sentral.
Kondisi ini juga memperkuat gambaran bagi dolar karena tekanan inflasi meningkatkan peluang The Fed mempertahankan atau menaikkan suku bunga dalam jangka pendek. Namun pasar memperkirakan hampir 5% probabilitas bahwa bank sentral akan menurunkan suku bunga pada pertemuan Januari, mencerminkan keseimbangan antara data inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Secara umum, data harga produsen memperkuat dinamika dolar di pasar global dan dukungan terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat.
Kebijakan The Fed juga dipengaruhi oleh dinamika politik di Washington. Ketua Fed Jerome Powell mengkritik langkah pemerintahan Trump yang memanfaatkan momen politik untuk mempengaruhi kebijakan moneter. Komentar tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan politik bisa mengganggu independensi bank sentral. Pasar menimbang bagaimana implikasi tersebut bisa mempengaruhi kepercayaan investor dan arah dolar.
Trump menyatakan bahwa ia tidak punya rencana untuk memecat Powell, namun menyebut intervensi politik terlalu dini untuk menilai arah kebijakan jangka panjang. Pernyataan ini menambah bias ketidakpastian terhadap prospek kebijakan moneter dan jalur suku bunga di masa mendatang. Ketegangan antara kebijakan fiskal dan moneter bisa membatasi volatilitas dolar dalam jangka pendek.
S overall, kombinasi data ekonomi yang kuat dan komentar politik menambah dinamika bagi pasar global. Investor akan terus menilai seberapa besar independensi The Fed terpengaruh oleh tekanan eksternal. Dalam konteks ini, dolar cenderung bergejolak antara asumsi kebijakan hawkish dan risiko politik yang bisa mengubah arah kebijakan di masa mendatang.