NICE, emiten tambang nikel yang terdaftar di bursa, mengumumkan adanya fasilitas kredit senilai Rp100 miliar dari Bank KB Indonesia. Pinjaman ini diberlakukan dengan suku bunga IndONIA sebesar 1,80% per tahun dan berjangka hingga 6 Januari 2027. Perjanjian kredit ini ditandatangani pada 6 Februari 2026.
Nilai fasilitas tersebut setara sekitar 57,25% dari total ekuitas NICE per 31 Desember 2024, menjelaskan ukuran pembiayaan yang signifikan bagi perseroan. Hal ini menunjukkan strategi manajemen modal yang fokus pada pembiayaan jangka pendek untuk menjaga likuiditas. NICE menekankan bahwa pinjaman ini tidak memerlukan penilaian independen maupun persetujuan pemegang saham sesuai POJK 17/2020.
Direktur NICE, Yeon Ho Choi, menegaskan bahwa dana pinjaman akan digunakan sebagai opsi pembiayaan untuk kebutuhan modal kerja perseroan. Kebijakan ini diharapkan membantu kelancaran operasional tanpa mengubah struktur keuangan secara material bagi perusahaan.
Kebijakan POJK 17/2020 mengatur bahwa pinjaman langsung dari bank tidak memerlukan penilai independen maupun persetujuan pemegang saham, sehingga proses pembiayaan bisa berjalan lebih cepat. Bagi NICE, fasilitas Rp100 miliar di dua bank menunjukkan fleksibilitas sumber pembiayaan untuk modal kerja. Suku bunga IndONIA sebesar 1,80% memberikan biaya pinjaman yang relatif kompetitif di pasar saat ini.
Transaksi pembiayaan sebelumnya NICE juga pernah menerima fasilitas pinjaman Rp100 miliar dari Bank UOB Indonesia pada periode yang sama, menunjukkan diversifikasi sumber pendanaan dan kemampuan perusahaan menjaga likuiditas. Kebijakan ini diharapkan menjaga stabilitas operasional meski tetap mempertimbangkan biaya bunga. Secara umum, fasilitas ini tidak mengubah pandangan risiko utama perusahaan.
Dari perspektif investor, langkah pembiayaan ini memberi dukungan pada operasional jangka pendek tanpa mengubah peta risiko jangka panjang. Cetro Trading Insight menilai sinergi antara pembiayaan modal kerja dan catatan keuangan NICE patut diperhatikan, terutama terkait volatilitas harga komoditas. Oleh karena itu, sinyal trading tetap netral untuk saat ini.