Commerzbank melalui analis Antje Praefcke mencatat bahwa inflasi inti Swedia turun menjadi 1,7% secara year-on-year pada Januari, sementara inflasi headline berada di 2,0%. Penurunan tersebut menambah fokus pada bagaimana jalur inflasi mendasari keputusan kebijakan. Karena efek basis, laju inflasi bisa melorot lebih jauh dalam beberapa bulan ke depan, yang berpotensi menekan angka headline juga jika tren itu berlanjut.
Penurunan ini menambah ketidakpastian mengenai arah kebijakan, terutama bagi target inflasi 2%. Banyak pihak menilai risiko inflasi tetap rendah dapat mempengaruhi penilaian mengenai kapan suku bunga bisa berubah. Kondisi ini menuntut perhatian terhadap faktor-faktor pendukung seperti dinamika pertumbuhan dan tekanan harga barang.
Fakta-fakta ini menempatkan inflasi sebagai variabel kunci bagi Riksbank, di tengah pernyataan pejabat yang menilai risiko inflasi lebih rendah dari target. Jelang rilis data berikutnya, analis menilai apakah laju inti bisa menstabilkan di sekitar atau di bawah 2% dalam beberapa bulan mendatang. Cetro Trading Insight menekankan bahwa dinamika ini bisa meningkatkan volatilitas kurs jika data baru memicu perubahan ekspektasi kebijakan.
Wakil Gubernur Per Jansson membuka pintu untuk pemangkasan suku bunga pada Maret jika risiko inflasi tetap di bawah target terlalu besar. Pernyataan ini kontras dengan pedoman Riksbank yang sebelumnya menandaskan bahwa jalur kebijakan cenderung tidak berubah sepanjang tahun. Ketegangan antara pandangan pejabat dan arahan kebijakan menambah fokus pasar terhadap arah suku bunga di masa mendatang.
Riksbank telah mengindikasikan jalur yang relatif tidak berubah hingga akhir tahun, dengan asumsi bahwa suku bunga bisa naik lagi setelahnya. Namun, ekspektasi pasar dapat berubah jika data inflasi berikutnya, termasuk angka Februari, juga tidak memenuhi target. Dalam konteks itu, pergeseran ekspektasi dapat memicu perubahan harga obligasi dan kurs di pasar keuangan.
Akibatnya, SEK menghadapi risiko jika evaluasi pasar terhadap kebijakan masa depan berubah secara mendasar. Ketidakpastian ini bisa memicu volatilitas pada pasangan USDSEK dan aktivitas trading forex secara luas. Pelaku pasar didorong untuk memantau rilis data ekonomi dan komentar resmi bank sentral secara cermat.
Data inflasi Februari yang dirilis di awal Maret bisa menjadi penentu bagi pergerakan harga aset berisiko. Jika inflasi tetap rendah, Riksbank bisa menahan diri lebih lama, meski risiko pemotongan pada Maret tetap ada. Keputusan bank sentral cenderung memicu reaksi pasar yang cepat jika ekspektasi berubah secara signifikan.
Secara umum, skenario pasar menggambarkan kehati-hatian karena adanya potensi perbedaan antara sinyal kebijakan dan respons pasar. Periode data-driven menuntut kredibilitas kebijakan yang jelas dan konsisten. Investor perlu memahami bahwa perubahan kebijakan bisa terjadi secara bertahap meski dampaknya besar terhadap volatilitas kurs.
Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk memberikan analisa fundamental terkait USDSEK serta implikasi kebijakan. Pembaca dianjurkan mengikuti rilis data ekonomi terbaru dan menyesuaikan posisi dengan manajemen risiko mengingat ketidakpastian arah kebijakan.