UOB Global Economics & Markets Research menyampaikan bahwa inflasi Malaysia tetap stabil pada Januari, sekitar 1.6% secara year-on-year, sama dengan Desember. Angka ini sejalan dengan konsensus Bloomberg meskipun sedikit lebih rendah dari estimasi internal mereka sebesar 1.7%. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal terakhir 2025 terlihat solid, namun tekanan harga masih terkendali, sehingga besar kemungkinan arah kebijakan tidak berubah dalam waktu dekat.
Penahanan inflasi berarti tekanan bagi bank sentral untuk tidak mengubah kebijakan secara drastis. Mereka menilai bahwa momentum kenaikan harga belum menunjukkan gejala overheating, sehingga tidak ada dorongan besar untuk mengubah struktur suku bunga. Seiring dengan itu, analisis mereka menunjukkan bahwa OPR 2.75% tetap relevan sebagai kerangka kebijakan sepanjang 2026.
Data inflasi Januari 1.6% y/y juga menyoroti bahwa angka ini sejalan dengan konsensus dan sedikit lebih rendah dari ekspektasi internal mereka. Interpretasi utama adalah adanya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan tekanan harga, sehingga ruang bagi bank sentral untuk menjaga kepastian kebijakan tetap terbuka. Secara garis besar, strategi kebijakan moneter di Malaysia diproyeksikan tidak berubah setidaknya hingga akhir 2026.
Bank Negara Malaysia (BNM) diperkirakan mempertahankan OPR pada 2.75% sepanjang 2026 meski ada data GDP 4Q25 yang menunjukkan performa kuat. Nilai inflasi dinilai terkendali, sehingga tidak ada alasan mendesak untuk penyesuaian kebijakan secara signifikan. Analisis UOB menekankan bahwa tekanan harga belum memburuk sehingga ruang untuk kelanjutan kebijakan akomodatif tetap ada.
Keputusan untuk tidak mengubah kebijakan didorong oleh dinamika harga yang stabil dan prospek pertumbuhan yang masih solid. Pasar cenderung menilai bahwa perubahan lebih berisiko, terutama jika volatilitas inflasi turun lebih jauh atau jika faktor eksternal berubah. OPR 2.75% akan menjadi tingkat acuan utama untuk menilai rilis data ekonomi berikutnya.
Meski ada pertumbuhan ekonomi yang solid, fokus kebijakan tetap pada menjaga stabilitas harga dan pembiayaan yang terjangkau bagi rumah tangga serta perusahaan. Proyeksi jangka pendek menekankan bahwa Bank Negara akan mengutamakan kepastian kebijakan daripada menimbang perubahan mendadak. Dalam konteks global, kebijakan Malaysia mencerminkan tren banyak bank sentral lain yang mengutamakan kestabilan sebagai kendaraan menuju pertumbuhan berkelanjutan.
Para investor dan pelaku pasar dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini bahwa stabilitas harga menjadi kunci bagi perencanaan keuangan dan ekuitas serta pasar obligasi di negara berkembang. Meskipun pertumbuhan ekonomi terlihat kuat pada kuartal terakhir, tekanan harga tetap terkendali sehingga ruang untuk perubahan kebijakan tidak terbuka lebar. Lingkungan ini mengarah pada ekspektasi volatilitas yang lebih rendah dan fokus pada faktor fundamental lainnya.
Nilai tukar ekonomi Malaysia dapat terpengaruh oleh faktor global selain data domestik, sehingga pergerakan USDMYR akan mengikuti dinamika imbal hasil dan ekspektasi inflasi global. Pedagang perlu memantau sinyal-sinyal inflasi dan pembaruan kebijakan karena perubahan kebijakan bisa mengubah prospek yield dan arus modal. Dalam jangka menengah, stabilitas kebijakan membantu menjaga iklim investasi yang konstruktif untuk sektor korporasi dan infrastruktur.
Kesimpulannya, narasi inflasi yang terkendali dan gaya kebijakan yang ramah pertumbuhan meningkatkan keyakinan investor pada kondisi makro Malaysia. Pasar dapat menilai bahwa risiko kebijakan terlalu agresif menurun, sementara peluang bagi investasi berisiko rendah meningkat. Namun, pelaku pasar tetap perlu mengawasi risiko eksternal seperti perubahan harga komoditas dan dinamika perdagangan regional yang dapat merubah prospek inflasi.