Pasar obligasi Indonesia menunjukkan dinamika yang makin matang, menurut laporan Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada 2025, BEI mencatat total emisi obligasi dan sukuk sebanyak 20 emisi dari 13 emiten dengan nilai Rp15,71 triliun. Data ini menandai momentum penting bagi investor ritel maupun institusi yang mencari diversifikasi pendapatan tetap melalui instrumen fixed income.
Dari sisi jumlah, BEI juga mencatat 672 emisi dengan outstanding nominal Rp549,76 triliun serta USD134,010595 juta dari 133 emiten. Angka-angka ini mencerminkan kepadatan aktivitas pasar saat ini dan potensi alokasi modal ke instrumen utang jangka menengah hingga panjang. BEI terus mengorkestrasi ekosistem pendanaan melalui berbagai seri obligasi yang menarik bagi berbagai profil investor.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menyebutkan bahwa Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI berjumlah 190 seri dengan nilai nominal Rp6.674,24 triliun dan USD352,10 juta. BEI juga mencatat Efek Beragun Aset (EBA) sebanyak 7 emisi senilai Rp3,69 triliun. Peningkatan variasi instrumen ini menunjukkan upaya regulator dan pelaku pasar untuk memperluas opsi investasi bagi para peserta pasar obligasi Indonesia.
| Keterangan | Jumlah | Nilai |
|---|---|---|
| Emisi obligasi & sukuk (2025) | 20 emisi | Rp15,71 triliun |
| Obligasi & Sukuk outstanding | 672 emisi | Rp549,76 triliun; USD134,010595 juta |
| SBN tercatat | 190 seri | Rp6.674,24 triliun; USD352,10 juta |
| EBA tercatat | 7 emisi | Rp3,69 triliun |
Dalam rentang 16–20 Februari 2026, BEI mencatat satu pencatatan obligasi berkelanjutan. Obligasi ini diterbitkan oleh PT Energi Mega Persada Tbk dan menjadi contoh terbaru dari dinamika penerbitan utang korporasi di bursa. Pencatatan ini menggambarkan minat penerbit energi untuk membiayai ekspansi sambil menarik minat investor institusional melalui struktur berkelanjutan.
Obligasi Berkelanjutan I Energi Mega Persada Tahap II Tahun 2026 memiliki pokok di BEI sebesar Rp1,15 triliun. Pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) adalah idA+ (Single A Plus), dengan wali amanat PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Struktur rating dan penjaminan ini meningkatkan kepercayaan investor terhadap likuiditas dan kemampuan pembayaran kembali di masa datang.
Analisis ini disajikan oleh Cetro Trading Insight, platform analisis pasar yang berfokus pada informasi pasar modal Indonesia. Meski begitu, informasi dari BEI menunjukkan adanya aliran pendanaan jangka menengah hingga panjang yang tetap menarik bagi investor ritel maupun institusional, meski tanpa menyediakan sinyal trading spesifik pada saat ini.