KOSPI Anjlok 8% di Tengah Ketegangan Timur Tengah; Imbasnya pada Won dan Obligasi Korea

KOSPI Anjlok 8% di Tengah Ketegangan Timur Tengah; Imbasnya pada Won dan Obligasi Korea

trading sekarang

Pasar Korsel hari Senin terguncang hebat, menandai salah satu hari paling volatil dalam beberapa tahun terakhir. Indeks KOSPI terpangkas sekitar 8% dan menembus level kritis, menandakan sentimen risk-off yang melanda pasar global. Menurut Cetro Trading Insight, perdagangan otomatis dihentikan untuk kedua kalinya bulan ini, menambah ketidakpastian likuiditas di bursa Seoul.

KOSPI turun 452,80 poin atau 8,11% menjadi 5.132,07 pada 08.48 WIB, menandai penurunan tajam sepanjang pekan terakhir yang mencapai 10,6%, penurunan terbesar sejak Maret 2020. Di tengah lonjakan harga minyak dan sentimen risk-off, para pelaku pasar merasakan tekanan dari volatilitas yang meluas di seluruh sektor. Penghentian perdagangan otomatis kembali diaktifkan untuk kedua kalinya bulan ini, menambah dorongan jual yang intens di pasar saham Korsel.

Nilai tukar won melemah lebih dari 1% dan diperdagangkan mendekati batas psikologis 1.500 per dolar, menambah beban pada biaya impor dan persepsi risiko. Sepanjang pekan lalu, won menyentuh level 1.500 per dolar untuk pertama kalinya sejak Maret 2009, menggarisbawahi volatilitas di pasar valuta asing. Bank of Korea (BOK) menyatakan volatilitas berlebihan di pasar obligasi dan valuta asing serta menegaskan siap mengambil langkah stabilisasi jika diperlukan.

Di tengah gejolak, fokus utama pasar tertuju pada dinamika obligasi dan valuta asing. Bank of Korea menekankan kesiapan untuk menstabilkan pasar jika diperlukan, menunjukkan respons kebijakan yang siap dilakukan untuk menjaga likuiditas dan mengurangi dampak kejutan eksternal. Langkah ini memperlihatkan prioritas pemerintah dalam menjaga fondasi keuangan domestik dari arus volatilitas global.

Sementara itu, pernyataan geopolitik menambah risiko bagi pasar. Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus pemimpin tertinggi Ali Khamenei, sinyal kuat bahwa kelompok garis keras tetap dominan di Teheran pada fase awal konflik. Perkembangan ini menambah ketidakpastian bagi arus modal internasional dan berpotensi mempengaruhi harga komoditas serta respons pasar global terhadap berita geopolitik.

Dalam konteks portofolio, para investor menimbang kembali alokasi aset. Kenaikan volatilitas mendorong evaluasi atas eksposur terhadap aset berisiko dan sorotan terhadap edukasi risiko bagi investor domestik maupun asing. Hubungan antara risiko geopolitik, harga minyak, dan dinamika dolar AS membuat pergerakan pasar Korsel tetap sensitif terhadap berita kebijakan dan konflik regional.

Dinamika saham Korsel terlihat jelas pada performa flagship tech: Samsung Electronics turun 10,04%, menunjukkan tekanan berat pada sektor teknologi. Saingan utama, SK Hynix, turun 11,58%, sedangkan LG Energy Solution melemah 6,62%, menandakan dampak luas pada sektor komponen semikonduktor dan baterai. Penurunan berantai pada saham-saham terkemuka mencerminkan kekhawatiran terkait permintaan global dan rantai pasokan yang rapuh.

Lebih lanjut, pasar menunjukkan aliran modal yang tidak seimbang. Dari total 927 saham yang diperdagangkan, 56 diantaranya naik, sedangkan 869 turun; gambaran jelas tentang tekanan jual yang meluas di bursa. Investor asing tercatat menjual bersih saham senilai 1,8 triliun won, memperlebar tekanan volatilitas dan menambah beban pada likuiditas pasar.

Di pasar obligasi, imbal hasil melonjak untuk tenor tiga dan sepuluh tahun. Imbal hasil obligasi tiga tahun meningkat 19,6 basis poin menjadi 3,426%, level tertinggi sejak Juni 2024. Sementara itu, imbal hasil obligasi 10 tahun naik 13,3 basis poin menjadi 3,749%, menunjukkan korelasi negatif antara risiko geopolitik dan harga obligasi. Kondisi ini menambah tekanan pada biaya pembiayaan negara dan persepsi risiko di kalangan investor.

broker terbaik indonesia