
Indikator utama DXY naik menuju area 98,50 setelah data PPI AS menunjukkan pelepasan inflasi yang lebih kuat dari ekspektasi. Lonjakan PPI mayoritas 1,4% secara bulanan pada April memperkuat kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut memperkuat minat investor terhadap aset dolar dan membatasi peluang rebound bagi pasangan mata uang utama.
EURUSD melemah menuju sekitar 1,1710 karena penguatan dolar memperluas tekanan pada euro. Pasar menilai bahwa risiko kebijakan Fed yang lebih tegas akan menekan likuiditas di wilayah euro, meski sinyal dari data zona euro relatif menenangkan. Sinyal teknikal pada EURUSD belum membentuk pola pembalikan yang jelas dalam beberapa sesi terakhir.
GBPUSD turun ke sekitar 1,3520 seiring menguatnya Greenback dan kekhawatiran politik domestik di Inggris. Ketidakpastian fiskal serta volatilitas gilts meningkatkan kehati-hatian investor. Sementara USDJPY menguat mendekati 156,90 sejalan dengan perbaikan yield AS dan peningkatan diferensial imbal hasil antara kedua negara.
Minyak WTI diperdagangkan mendekati 101,20 dolar per barel setelah laporan inventori menunjukkan penurunan serta kekhawatiran pasokan terkait konflik Iran dan gangguan di Selat Hormuz. Stok minyak domestik turun sekitar 4,3 juta barel, melampaui ekspektasi pasar. Arah harga minyak tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan dinamika pasokan global.
Emas tertekan mendekati level 4.690 dolar AS per ounce karena imbal hasil AS yang lebih tinggi dan penguatan dolar mengurangi daya tarik logam non-yielding. Meski tekanan harga membatasi penurunan lebih lanjut, ketidakpastian geopolitik menjaga peluang rebound tetap relevan bagi sebagian pelaku pasar. Faktor-faktor risiko global menjadi pendorong utama bagi pergerakan logam kuning.
Dalam beberapa hari ke depan, kalender ekonomi menampilkan rilis penting seperti AU May CPI Expected, UK March GDP, US NY Empire State Manufacturing Index, US April Retail Sales, serta data inflasi Jerman (DE HICP). Rilis ini diharapkan memicu volatilitas pada DXY dan pasangan utama, sekaligus menginformasikan ekspektasi kebijakan bank sentral. Investor disarankan memantau pergerakan imbal hasil serta gejolak geopolitik untuk memahami potensi pergeseran arah pasar.