Pergerakan harga minyak kemarin relatif tenang, dengan Brent ditutup sedikit lebih tinggi namun masih berada di bawah kenaikan 0,5 persen. Para pelaku pasar menilai faktor pendukung berupa stabilitas sentimen perdagangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa, sehingga volatilitas harga tidak menonjol. Gambaran umum pasar saat ini menunjukkan lingkungan yang lebih terkontrol dibanding beberapa minggu sebelumnya.
Analis menyebut de-eskalasi ketegangan perdagangan telah mengurangi risiko gangguan pasokan, sehingga pergerakan Brent cenderung berada dalam rentang kecil. Para trader menunggu sinyal lebih lanjut dari dinamika kebijakan dan laporan pasokan global. Dengan demikian, prospek jangka pendek terlihat lebih moderat meskipun faktor fundamental tetap kompetitif.
Dalam konteks teknikal dan kebijakan, pasar tetap mengamati bagaimana harga merespons faktor eksternal seperti kebijakan tarif dan kegiatan produksi OPEC+. Pihak berwenang juga memberikan indikasi bahwa pasar akan menyeimbangkan diri seiring adanya penyesuaian pasokan. Hal ini menunjukkan bahwa arah harga lebih banyak dipicu oleh perubahan permintaan dan polarisasi pasokan ketimbang kejutan teknis.
Surplus pasokan minyak diperkirakan bertahan hingga 2026, sehingga tekanan terhadap harga cenderung terbatas. Kondisi ini diulas para analis karena peningkatan produksi global dan permintaan yang tidak terlalu tajam masih menjaga pasar dalam posisi surplus. Hal ini berpotensi menahan lonjakan signifikan pada Brent dalam jangka menengah.
De-eskalasi ketegangan perdagangan menambah sentimen positif bagi pasar, karena pelonggaran ancaman tarif mengurangi risiko gangguan pasokan. Kebijakan tersebut dinilai mendorong kepercayaan investor dan membantu menjaga volatilitas di bawah tekanan sebelumnya. Momen ini juga mengurangi kekhawatiran pembatasan perdagangan yang bisa memicu lonjakan biaya produksi.
Sektor minyak akan tetap dinamis karena faktor teknis suplai OPEC+ dan dinamika permintaan global. Para pelaku pasar memantau laporan bulanan dan data inventori untuk melihat apakah surplus akan berlanjut. Kendati demikian, konsensus adalah bahwa proyeksi surplus akan memberi arah bagi pergerakan harga dalam beberapa kuartal ke depan.
Dalam laporan bulanan, IEA merevisi proyeksi pertumbuhan permintaan minyak untuk 2026 menjadi 930 ribu barel per hari, naik dari 860 ribu sebelumnya. Revisi ini mencerminkan ekspektasi bahwa kondisi ekonomi akan membaik dan konsumsi energi akan meningkat secara bertahap. Hal ini memberi sinyal bahwa permintaan minyak bisa lebih kuat dari perkiraan awal, meskipun tetap dalam konteks pasar yang surplus.
Penyesuaian ini mencerminkan asumsi bahwa harga minyak berada pada level yang lebih rendah dan ekonomi global menunjukkan pemulihan yang lebih normal, sehingga pola konsumsi energi ikut meningkat. Faktor-faktor seperti stabilitas fiskal dan perlambatan inflasi juga berkontribusi pada pemulihan permintaan minyak. Secara keseluruhan, perubahan ini menandai dinamika pasar yang lebih ramah bagi pemulaan konsumsi energi.
Meskipun permintaan meningkat, IEA tetap memperkirakan pasar akan berada dalam surplus besar hingga 2026. Ekspektasi ini menunjukkan bahwa keseimbangan pasokan tidak akan mudah berubah dalam waktu dekat. Pelaku pasar diharapkan memonitor pergerakan inventori dan kebijakan produksi untuk menilai perubahan risk-reward.