Indonesia memasuki 2026 dengan momentum pertumbuhan yang kuat, didorong oleh dinamika domestik dan permintaan global. Namun, para analis memperingatkan bahwa risiko fiskal dan kebijakan mulai meningkat. MUFG menilai bahwa manajemen kebijakan perlu menjaga keseimbangan antara dorongan pertumbuhan dan kestabilan fiskal.
Laporan 2025 menunjukkan penerimaan pajak yang lemah, sementara rencana perluasan anggaran sebesar 11,3 persen untuk 2026 menambah kekhawatiran pasar. Meski defisit tetap berada dalam batas 3 persen secara hukum, tekanan fiskal ini menuntut koordinasi yang hati-hati antar otoritas. Pemerintah bertekad menjaga defisit tetap terkendali sambil mempertahankan prioritas pertumbuhan.
Secara struktural, beberapa tantangan tetap ada meski pertumbuhan PDB terlihat resilien. Produktivitas telah dinilai stagnan bila dibandingkan dengan Amerika Serikat, sehingga momentum peningkatan produktivitas menjadi kunci. Neraca berjalan Indonesia juga masih sensitif terhadap perubahan harga komoditas dan dinamika permintaan global. Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
| Aspek | Gambaran Singkat |
|---|---|
| Pertumbuhan | Momentum kuat menuju 2026 |
| Defisit | Disiplin 3 persen atau lebih rendah |
| Neraca eksternal | Ketergantungan pada komoditas |
Para pembuat kebijakan menegaskan ekspansi fiskal akan berjalan seimbang dengan disiplin defisit. Walaupun pertumbuhan menjadi prioritas kebijakan, langkah fiskal ditata secara hati-hati untuk mencegah overhang pada nilai tukar.
MUFG menilai defisit tetap dijaga di bawah batas 3 persen dengan pendekatan yang luas namun terukur. Langkah-langkah fiskal fokus pada dukungan pertumbuhan sambil menjaga stabilitas fiskal dan kepercayaan pasar.
Ke depan, reformasi struktural diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing, guna mengurangi salah satu ketergantungan eksternal yang berdampak pada neraca. Upaya tersebut diharapkan memudahkan transformasi kebijakan fiskal menjadi lebih berkelanjutan.
Neraca berjalan Indonesia tetap rentan terhadap fluktuasi harga komoditas dan permintaan global. Ketergantungan pada komoditas membuat arus keluar masuk valuta asing lebih sensitif terhadap perubahan harga dan siklus ekonomi dunia.
Produktivitas nasional menunjukkan perlambatan dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat, sehingga dorongan reformasi menjadi sangat penting. Reformasi tersebut mencakup peningkatan investasi pendidikan, infrastruktur, dan efisiensi sektor publik. Hal ini diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan sambil menjaga keseimbangan eksternal.
Menurut tim Cetro Trading Insight, faktor eksternal tetap menjadi sorotan dan kebijakan fiskal yang terukur membantu menjaga stabilitas meski risiko global meningkat.