NAB: Dolar AS Diprediksi Melemah hingga 2026 Seiring Reflasi Kebijakan AS

NAB: Dolar AS Diprediksi Melemah hingga 2026 Seiring Reflasi Kebijakan AS

trading sekarang

Para analis NAB, Stéfane Marion dan Kyle Dahms, mencatat dolar AS melemah ke level terendah sejak 2023 akibat ketegangan geopolitik dan posisi spekulatif di pasar valuta. Pergerakan ini mencerminkan perubahan risiko global dan aliran modal ke aset yang lebih defensif. Laporan ini dirangkum untuk pembaca Cetro Trading Insight dan disusun dengan dukungan alat analitik.

Mereka mengatakan bahwa pemulihan teknikal jangka pendek dari level oversold mungkin terjadi, tetapi tekanan terhadap dolar secara luas diperkirakan berlanjut hingga 2026 seiring penerapan kebijakan reflasi di AS. Market participants akan mencermati data inflasi, rilis angka pertumbuhan, dan dinamika kebijakan fiskal yang dapat mengangkat volatilitas. Kesimpulan utama adalah bahwa perubahan sentimen risiko global akan mempengaruhi arah dolar secara berkelanjutan.

Selain itu, perubahan kepemimpinan Federal Reserve baru-baru ini menjadi fokus utama pasar karena portofolio kebijakan yang akan dilaksanakan bank sentral. Pemilihan Kevin Warsh untuk memimpin The Fed dinilai sebagai sinyal kebijakan yang lebih terukur namun tetap berada di bawah tekanan inflasi yang tetap tinggi. Dalam konteks ini, para analis menekankan bahwa orbit dolar diperkirakan tetap bergejolak di tengah dinamika geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter.

Ketegangan geopolitik dan posisi spekulatif investor membebani dolar, sehingga arus modal cenderung berpindah menuju aset yang lebih berisiko atau mata uang pelindung risiko. Para analis NAB menilai bahwa volatilitas akan tetap tinggi karena pasar menilai kombinasi antara risiko geopolitik dan langkah fiskal yang akan datang. Ketidakpastian kebijakan mempengaruhi preferensi investor di jangka pendek maupun menengah.

Mereka menyoroti bahwa kebijakan reflasi umumnya memberikan tekanan negatif terhadap dolar karena meningkatkan permintaan terhadap aset berisiko di negara berkembang maupun wilayah lain. Seiring dengan itu, perubahan kebijakan fiskal bisa memperbaharui perbandingan suku bunga dan imbal hasil antar negara. Faktor cuaca ekstrem juga berperan, memperumit dinamika aliran dana global.

Kedinginan Arktik yang melanda AS pada Januari turut membekukan aktivitas ekonomi dan menambah beban pada greenback. Hal ini memperuncing risiko downside bagi dolar di beberapa sektor, meskipun ada potensi rebound teknikal jangka pendek. Secara keseluruhan, dinamika geopolitik dan kebijakan reflasi membentuk kerangka kerja bagi pergerakan dolar dalam beberapa kuartal mendatang.

Implikasi kepemimpinan Fed dan inflasi

Perubahan kepemimpinan Federal Reserve menjadi pusat perhatian karena dampaknya terhadap kebijakan moneter dan arah suku bunga. Pasar menilai bahwa komite kebijakan akan lebih responsif terhadap tekanan inflasi meski ada pergeseran opini politik internal. NAB menekankan perlunya memantau setiap pernyataan dari pejabat Fed dan data inflasi untuk menilai arah dolar.

Dengan fokus pada kebijakan reflasi dan potensi tekanan harga, para analis menilai bahwa jalur kebijakan moneter dapat menahan dolar dari rebound signifikan meski ada peluang pemulihan jangka pendek. Nilai tukar bisa terpengaruh oleh perubahan imbal hasil obligasi, rilis CPI, dan komentar pejabat Fed yang dapat menambah volatilitas. Investor perlu menilai risiko inflasi yang tetap tinggi terhadap dinamika pasar internasional.

Untuk pembaca Cetro Trading Insight, rekomendasinya adalah menjaga diversifikasi aset dan manajemen risiko yang ketat sambil terus memantau rilis data inflasi serta pernyataan kebijakan Fed. Banyak faktor makro akan membentuk arah dolar, sehingga pendekatan berbasis risiko lebih penting daripada spekulasi jangka pendek. Dalam konteks ini, fokus pada aliran modal global dan kebijakan fiskal akan memberikan gambaran tentang potensi arah pasar di masa depan.

broker terbaik indonesia