Momentum Imlek 2026: Peluang Saham Indonesia Tetap Menarik

Momentum Imlek 2026: Peluang Saham Indonesia Tetap Menarik

trading sekarang

Memasuki libur Tahun Baru Imlek, pasar saham Indonesia siap menatap peluang besar di tahun Kuda Api 2026. Cetro Trading Insight melihat momentum ini sebagai kesempatan bagi investor untuk menyusun strategi yang kokoh, terukur, dan siap menghadapi segala volatilitas. Dalam suasana tenang jelang pembukaan perdagangan, terdapat Array peluang yang bisa ditangkap melalui kombinasi analisis fundamental dan gambaran teknikal yang jelas.

Secara makro, proyeksi ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh sekitar 5,3 persen pada 2026 dan 5,4 persen pada 2027, dengan inflasi terjaga di kisaran 2,5 persen. Rupiah diperkirakan menguat menuju Rp16.500 per dolar AS pada akhir 2026, mendukung sentimen risk-on. Secara teknikal IHSG dinilai oversold meski tren jangka menengah menunjukkan pergeseran, sehingga peluang bagi investor untuk memilih saham berfundamental kuat semakin relevan.

Sejumlah sektor dinilai potensial, mulai dari komoditas (emas, batu bara, nikel), perbankan, konsumsi, hingga telekomunikasi. Dalam konteks ini, rekomendasi akumulasi pada saham-saham berfundamental solid dan undervalued dinilai paling relevan, sambil diiringi manajemen risiko yang disiplin. Perlu diingat, investor perlu menakar eksposur sektor dengan cermat dan meninjau ulang portofolio secara berkala.

Di kaca sektor komoditas, gold emas tetap menjadi barometer volatilitas global dan proyeksi harganya tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Saham-saham tambang seperti AADI, ADRO, AMMN, HRUM, dan INCO tetap menjadi fokus karena mereka sensitif terhadap pergerakan harga emas dan siklus komoditas. Dengan kondisi ini, peluang bagi investor yang mencari eksposur langsung terhadap logam mulia lewat perusahaan tambang semakin nyata.

Analisa dari Mirae Asset menunjukkan bahwa strategi akumulasi pada saham-saham berfundamental kuat dan undervalued bisa menjadi kunci. Dalam praktiknya, pendekatan Array peluang pasar mendorong pemilihan emiten dengan nilai wajar di bawah harga industrinya dan prospek pertumbuhan yang jelas. Manajemen risiko tetap jadi pilar utama, dengan porsi eksposur yang disesuaikan terhadap volatilitas pasar.

Di sektor perbankan, saham-saham big banks seperti BBCA, BBNI, BBRI, dan BMRI tetap solid berkat likuiditas, deposit, dan permodalan yang kuat serta potensi dividen yang menarik. Sektor konsumsi dan ritel juga prospektif, dengan HMSP, JPFA, dan MAPI dipandang berpotensi memulihkan margin dan laba seiring stabilitas daya beli domestik. Dengan latar belakang ini, para investor disarankan untuk fokus pada saham berfundamental tinggi dan menilai timing masuk yang tepat.

Strategi Eksekusi dan Manajemen Risiko Menuju 2026

Untuk mengeksekusi peluang, investor disarankan memulai dari portofolio berfundamental kuat dengan akumulasi bertahap. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya disiplin manajemen risiko, ukuran posisi, dan pemantauan volatilitas harian. Dalam konteks ini, investor perlu menilai profil risiko pribadi dan menyiapkan rencana cadangan jika pasar bergerak tak terduga.

gold emas bisa menjadi alat lindung nilai yang efektif di fase volatilitas; beberapa investor memilih eksposur moderat ke logam mulia sambil menimbang siklus harga. Perhatian khusus diperlukan pada emiten emas seperti BRMS, EMAS, dan HRTA yang bisa merespon pelonggaran suku bunga global. Pergerakan harga emas global yang tetap kuat menjadi dorongan bagi kinerja sektor komoditas.

S e c a r a, p r a k t i s, s t r a t e g i i investasi 2 0 2 6 bisa mencakup distribusi risiko melalui versi diversifikasi. Target risk-reward minimal 1:1.5 harus dipertimbangkan sebelum masuk posisi. Array peluang pasar ini mendorong investor untuk menyesuaikan alokasi dan meninjau ulang portofolio secara berkala.

broker terbaik indonesia