Nilai valuasi menjadi kunci bagi investor yang menilai saham konglomerasi. Dalam satu tahun terakhir, emiten dari kelompok konglomerasi menarik minat besar meski volatilitas pasar membuat pergerakan harga fluktuatif. Cetro Trading Insight menilai PBV sebagai pintu masuk untuk memahami apakah harga pasar sejalan dengan nilai buku perusahaan dan ekspektasi masa depan.
PBV atau price to book value mengukur seberapa mahal harga pasar jika dibandingkan dengan nilai buku per saham. Bila PBV di bawah 1x, harga pasar sering dianggap lebih murah daripada aset perusahaan yang dicatat di neraca. Namun sebaliknya, PBV tinggi bisa mencerminkan ekspektasi pertumbuhan atau kualitas neraca yang kuat, sehingga perlu ditinjau secara kontekstual.
Setelah koreksi pasar pada Januari 2026, banyak saham konglomerasi yang akhirnya mulai rebound. Minat investor tetap tinggi karena adanya peluang valuasi, terutama di kalangan ritel yang mencari diversifikasi. Pembaca disarankan untuk tidak mengandalkan PBV saja, karena rasio lain juga perlu dipertimbangkan.
Di antara deretan konglomerasi, sejumlah saham menunjukkan PBV rendah meski fundamentalnya tetap menjanjikan. Rasio ini sering dipakai sebagai screening awal untuk menemukan saham yang mungkin undervalued. The list yang dibahas di sini mencakup sembilan emiten dengan PBV rendah yang perlu dicermati.
| Saham | PBV | Nilai Wajar |
|---|---|---|
| BSDE | 0,44x | Rp2.014 |
| TKIM | 0,45x | Rp15.484 |
| INKP | 0,47x | Rp20.494 |
| AALI | 0,63x | Rp12.012 |
| CTRA | 0,66x | Rp1.242 |
| SMAR | 0,74x | Rp7.453 |
| AUTO | 0,83x | Rp3.176 |
| INDF | 0,84x | Rp8.002 |
| ADRO | 0,85x | Rp2.635 |
Dari sembilan emiten tersebut, mayoritas berasal dari grup besar seperti Sinar Mas, Astra International, Ciputra, Salim, dan Boy Thohir. Kehadiran kelompok besar ini sering memperkuat likuiditas saham serta potensi kolaborasi bisnis antar unit usaha. Keberagaman grup juga memberi sinyal bahwa valuasi PBV rendah bisa dipertahankan jika manajemen menunjukkan komitmen terhadap kinerja jangka panjang.
Walau PBV rendah menarik, penting bagi investor untuk menilai kualitas bisnis, neraca, dan arus kas. PBV hanyalah satu dari banyak indikator untuk menyaring saham murah potensial. Oleh karena itu, keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada kajian komparatif antara sejumlah rasio kunci selain PBV seperti ROE, DER, dan lindung risiko industri terkait.
PBV adalah ukuran valuasi pasar terhadap nilai buku perusahaan dan membantu investor membedakan harga wajar dari potensi diskon. Secara umum, nilai PBV sekitar 1x menandakan keseimbangan antara pasar dan buku, sedangkan di bawah 1x bisa berarti peluang undervalued, tergantung konteks. Namun faktor seperti kualitas aset, struktur modal, dan dinamika industri tetap mempengaruhi arti angka ini.
Meski PBV rendah bisa menarik, itu tidak otomatis berarti perusahaan sedang dalam kondisi buruk. Ada situasi di mana pasar belum menghargai aset tidak berwujud, proyeksi masa depan, atau efisiensi operasional yang kuat. Oleh karena itu investor perlu menilai secara komprehensif, tidak hanya mengandalkan satu rasio saja.
Untuk memanfaatkan PBV secara efektif, gabungkan dengan indikator lain seperti ROE, debt to equity, arus kas bebas, dan tren keuntungan. Pertimbangkan juga peta industri, kebijakan pemerintah, serta kualitas manajemen. Dengan kombinasi ini, investor bisa mengambil keputusan yang lebih informasional dan berpotensi meningkatkan risk-adjusted return.