Laporan dari Bank Indonesia menginformasikan bahwa penjualan ritel Indonesia pada November 2025 meningkat 6,3% secara tahunan. Angka tersebut melampaui pertumbuhan Oktober sebesar 4,3% dan juga melampaui proyeksi 4,0%. Angka ini menandai momentum permintaan domestik yang lebih kuat di penghujung tahun.
Kenaikan ini sebagian besar didorong oleh kontribusi suku cadang dan aksesori, makanan, minuman, tembakau, serta barang budaya dan rekreasi. Kategori-kategori tersebut menunjukkan belanja konsumen yang relatif tahan terhadap dinamika harga dan fluktuasi musiman.
Secara bulanan, penjualan ritel November 2025 tumbuh 1,5%, didorong oleh lonjakan pada peralatan informasi dan komunikasi, bahan bakar kendaraan bermotor, suku cadang dan aksesori, serta makanan, minuman, dan tembakau menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Kenaikan angka ritel mencerminkan daya beli rumah tangga yang tetap tinggi sepanjang kuartal keempat, mendukung pandangan bahwa konsumsi domestik menjadi pendorong utama pertumbuhan di akhir tahun.
Dinamika belanja terkait sektor tertentu menunjukkan pergeseran preferensi konsumen yang berpotensi mempengaruhi tekanan biaya hidup dan potensi inflasi dalam jangka pendek.
Dampak kebijakan Bank Indonesia masih bergantung pada tren inflasi dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan, meskipun data ritel memberikan sinyal bahwa permintaan domestik tetap menjadi faktor penting bagi arah kebijakan moneter di masa mendatang.
Di pasar valuta asing, respons terhadap data ritel tercermin dalam pergerakan USD/IDR yang melemah ke sekitar 16.871, setelah menyentuh level tertinggi 16.880 pada hari rilis.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa penawaran IDR relatif kuat pasca rilis data penjualan ritel, meskipun volatilitas masih terlihat menjelang penjualan akhir tahun.
Dengan fokus pada kondisi pasar, data ini menandakan ruang bagi trader untuk mempertimbangkan posisi pada pasangan USDIDR, dengan sinyal trading yang mencerminkan potensi penurunan USDIDR jika tren ini berlanjut (open=16871, tp=16720, sl=16971).