Harga perak XAGUSD rebound menuju sekitar $76,60 pada sesi Asia Jumat, menandai perubahan kasat mata dari penurunan tajam sebelumnya. Perkembangan pasar yang cenderung risk-off membuat logam mulia ini mencoba menyusuri kembali titik support terdekatnya. Guncangan teknikal yang dipicu oleh aktivitas jual otomatis sempat mendorong penurunan lebih lanjut, namun pembalikan ini menandakan adanya minat beli di level harga yang lebih rendah. Ketidakpastian pasar turut berperan dalam dinamika harga yang volatil, sehingga pergerakan jangka pendek cenderung ditentukan oleh tonasi risiko secara umum. Menurut laporan terbaru dari Cetro Trading Insight, para analis menilai bahwa minat investor pada logam mulia tetap hadir meski volatilitas tinggi.
Pelaku pasar menantikan rilis data inflasi CPI AS yang dirilis pada hari Jumat sebagai pendorong arah baru. Sinyal volatilitas yang meningkat tercermin pada penurunan tajam di sektor teknologi menjelang data tersebut. Ada juga elemen margin call yang diduga memperberat tekanan kepada logam mulia. Artikel ini menilai bahwa faktor teknikal jangka pendek berpotensi memicu pergerakan liar jika data CPI menunjukkan kejutan signifikan terhadap ekspektasi.
Secara umum, pasar tampak mengaitkan arah berikutnya pada bagaimana data CPI mempengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Dengan probabilitas pasar yang tinggi untuk menahan suku bunga, fokus tetap pada bagaimana angka inflasi memicu reaksi valuta dan imbasnya pada harga XAGUSD.
Selaras dengan kajian industri, permintaan perak global diperkirakan tetap stabil pada 2026 meskipun beberapa segmen mengalami tekanan. Manufaktur, perhiasan, dan penggunaan industri memberikan dampak penurunan; namun peningkatan investasi ritel diperkirakan mengimbangi sebagian besar tekanan tersebut. Laporan ini menyoroti dinamika permintaan sebagai elemen penting untuk fundamental jangka panjang logam ini.
Pasar juga menimbang jalur suku bunga The Fed berdasarkan data tenaga kerja dan CPI yang akan datang. Proyeksi bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan mendatang mendongrak stabilitas harga, sementara peluang pemotongan suku bunga pada pertemuan Juni masih di sekitar garis fifty-fifty. Pergerakan dolar AS secara langsung mempengaruhi harga perak dalam denominasi dolar.
Seiring ekspektasi bahwa laporan CPI dapat menentukan arah kebijakan, para pelaku pasar memperhatikan peluang jika angka inflasi lebih lemah dari perkiraan. Dalam skenario tersebut, pelemahan dolar bisa menjadi motor penggerak bagi harga logam mulia di jangka pendek.
Dalam konteks ini, dinamika harga lebih banyak dipicu oleh kejutan data ekonomi dan ekspektasi kebijakan daripada sinyal teknikal saja. Pembalikan harga terakhir menunjukkan adanya level support yang menahan penurunan lebih lanjut, tetapi belum ada sinyal masuk yang jelas untuk posisi jangka pendek. Trader disarankan memantau reaksi logam mulia terhadap tiap rilis CPI untuk menilai peluang breakout atau koreksi.
Riset ini menekankan pentingnya manajemen risiko dan evaluasi risiko-imbalan, mengingat volatilitas yang masih tinggi. Pergerakan perak terhadap dolar AS bisa memberikan peluang jika CPI menunjukkan hasil yang lebih ringan dari prediksi, tetapi juga bisa berbalik jika angka inflasi mengejutkan. Secara umum, pedoman yang konsisten adalah menjaga ekspektasi risiko sebesar minimal 1:1,5 ketika membuat keputusan trading.
Untuk para trader, penting juga mengamati sentimen risk-off di pasar tingkat luas, karena hal itu dapat menambah tekanan pada logam mulia. Komponen teknikal seperti pola harga, level support/resistance, dan volatilitas tetap relevan meskipun fokus utama berada pada faktor fundamental terkait CPI dan kebijakan The Fed. Oleh karena itu, posisi trading yang jelas belum terkonfirmasi di artikel ini dan sinyalnya dinilai sebagai tidak ada saat ini.