Di tengah dinamika industri pelayaran, PJHB tampil berani dengan mengganti galangan kapal untuk kapal ketiga. Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis untuk menekan biaya sambil menjaga ritme produksi agar sesuai target IPO. Menurut Cetro Trading Insight, kebijakan ini mencerminkan fokus perusahaan pada efisiensi operasional tanpa mengabaikan kualitas konstruksi.
Dalam konteks rencana tiga kapal LCT dengan total biaya Rp163 miliar, perubahan supplier menunjukkan bagaimana faktor harga menjadi pendorong utama keputusan strategis. PJHB menegaskan bahwa meski telah menunjuk ASSI, kontrak pembangunan belum ditandatangani karena negosiasi biaya dan persyaratan pembayaran. Pembayaran uang muka Rp2,03 miliar baru akan dibayarkan setelah penandatanganan kontrak.
TSU menawarkan tawaran yang lebih kompetitif dibanding ASSI, sehingga arah pengerjaan kapal ketiga dipindahkan ke vendor yang dinilai lebih ekonomis tanpa mengorbankan kapasitas produksi. Kedua galangan memiliki rekam jejak dan kompetensi teknis yang serupa menurut keterangan manajemen PJHB. Meski perubahan vendor terjadi, perseroan menegaskan seluruh rencana konstruksi tetap selaras dengan prospektus IPO dan jadwal kapal pertama.
TSU menghadirkan potongan biaya yang lebih rendah dibanding ASSI, membuat manajemen PJHB memusatkan kontrak pada mitra dengan ekuitas biaya lebih efisien. Kebijakan ini diperkirakan akan menjaga arus kas perusahaan sambil memastikan proyek berjalan sesuai target. Cetro Trading Insight menilai langkah ini sebagai sinyal positif terhadap kemampuan PJHB mengelola biaya proyek tanpa mengorbankan kualitas.
Meski biaya bisa ditekan, kedua galangan disebut memiliki kapasitas produksi, rekam jejak, dan kompetensi teknis yang mirip, sehingga pilihan akhirnya didasarkan pada efisiensi biaya dan keandalan proses. Manajemen PJHB menekankan bahwa perbandingan teknis tidak menunjukkan perbedaan signifikan dalam kemampuan konstruksi kapal LCT. Konsekuensi teknis, termasuk standar keselamatan dan kepatuhan klasifikasi, tetap menjadi fokus utama.
Pembatalan kontrak dengan ASSI terjadi karena mereka menaikkan harga kapal, sehingga PJHB tidak dapat memulai pembuatan gambar teknis kapal untuk BKI pada saat itu. Akibatnya, hak pelaksanaan proyek dialihkan ke TSU sesuai dengan penawaran yang lebih kompetitif. PJHB menegaskan bahwa langkah pengalihan ini tidak mengubah jadwal deliverables yang telah tercantum dalam prospektus IPO.
Kapal pertama telah dibangun sejak Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada November 2026. Progres ini menguatkan posisi PJHB dalam portofolio kapal dan menunjukkan komitmen perseroan terhadap rencana IPO. Saat ini, kapal kedua dan ketiga masih menunggu persetujuan BKI sebelum melanjutkan tahap konstruksi.
Total biaya untuk tiga kapal diperkirakan sekitar Rp163 miliar, dengan rincian Rp57 miliar untuk kapal pertama, Rp53 miliar untuk kapal kedua, dan Rp57 miliar untuk kapal ketiga. Anggaran ini sejalan dengan rencana yang diuraikan dalam prospektus IPO PJHB. Proses persetujuan untuk kapal kedua dan ketiga di BKI menjadi kunci kelanjutannya.
Setelah persetujuan BKI terpenuhi, konstruksi akan dilanjutkan sesuai rancangan, sementara perubahan galangan kapal menambah dinamika pada jadwal dan kepatuhan terhadap rencana IPO. PJHB menegaskan komitmen untuk menjaga transparansi informasi kepada investor dan pemangku kepentingan. Para pemangku kepentingan diundang mengikuti pembaruan reguler mengenai kemajuan proyek.