Menurut analisis makro yang dikutip, Gubernur RBA Michele Bullock menandai bahwa kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin jika inflasi Australia tetap terdukung. Hal ini sejalan dengan kekhawatiran pembuat kebijakan atas tren inflasi dan produktivitas. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami implikasi kebijakan.
RBA melihat inflasi headline dan inti tetap berada di atas kisaran target 2-3% sepanjang tahun ini, sementara ekspektasi inflasi konsumen kembali berada di atas 5%. Kondisi ini memberi tekanan pada mata uang AUD dan pada imbal hasil obligasi lokal. Ketika Dewan memutuskan menaikkan suku bunga menjadi 3,85%, mereka menekankan bahwa rencana selanjutnya akan bergantung pada data yang masuk.
Bullock menegaskan bahwa opsi pengetatan lebih lanjut tetap hidup jika diperlukan. Meskipun kenaikan lain tidak ditetapkan di muka, kebijakan dapat disesuaikan bila prospek inflasi tetap mengkhawatirkan. Hal ini menempatkan AUD dalam fokus pelaku pasar forex, karena pergeseran kebijakan moneter menghadirkan risiko terhadap yield dan aliran modal.
Bullock menekankan bahwa inflasi "dengan angka tiga di depannya" tidak bisa diterima, dan Dewan akan tetap data-driven serta mengevaluasi proyeksinya secara berkala. Dia menegaskan kebijakan akan tetap bergantung pada data dan terus meninjau proyeksinya. Keputusan kebijakan berikutnya akan bergantung pada momentum inflasi yang terpantau dalam beberapa rilis data.
Data Februari menunjukkan ekspektasi inflasi konsumen Australia naik 0,4 poin persentase menjadi 5,0% berdasarkan ukuran trimmed mean 30%. Angka ini mendukung keputusan RBA untuk menaikkan target kas hingga 3,85% dan menguatkan argumen bahwa tekanan inflasi masih kuat. Ekspektasi tersebut juga memperlihatkan risiko ketinggalan dalam rencana kebijakan.
Kembali meningkatnya ekspektasi inflasi menambah tekanan pada AUD dan kurva imbal hasil, karena pelaku pasar menilai kemungkinan pengetatan lebih lanjut di masa depan. Di sisi lain, tren inflasi yang lebih tinggi dari target bisa memperpanjang siklus pengetatan. Secara keseluruhan, pandangan hawkish ini memperburuk dinamika risiko bagi investor jangka pendek di pasar forex.
Dinamika kebijakan RBA yang hawkish berpotensi mendukung AUD jika proyeksi inflasi seimbang dan yield menyatu dengan ekspektasi pertumbuhan. Namun, ketidakpastian global dan volatilitas pasar bisa membatasi respons mata uang.
Dalam konteks trading, analisis ini cenderung menekankan landasan fundamental daripada sinyal teknikal, karena perubahan kebijakan moneter menjadi pendorong utama pergerakan nilai tukar. Pelaku pasar perlu menimbang bahwa data inflasi, ekspektasi, dan keputusan kebijakan berikutnya akan membentuk dinamika jangka pendek hingga menengah.
Rasio risiko-reward yang diharapkan minimal 1:1.5 menuntut manajemen risiko yang ketat bagi trader. Dalam konteks AUDUSD, arah kebijakan RBA bisa menjadi driver utama, meski banyak faktor lain seperti kondisi global dan kebijakan bank sentral lain turut mempengaruhi. Karena sinyal dalam artikel ini bersifat fundamental, pedagang disarankan untuk menunggu konfirmasi data inflasi dan keputusan kebijakan berikutnya sebelum mengambil posisi.