Rimau Group meluncurkan langkah berskala besar yang bisa mengubah lanskap distribusi minuman di Indonesia. Lewat anak usaha PT Tunas Binatama Lestari (TBL), perusahaan energi dan pertambangan ini menyiapkan akuisisi GRPM, emiten distributor Coca Cola Indonesia. Rencana ini menargetkan penguasaan sekitar 80% modal GRPM dan bisa menata ulang rantai pasokan minuman berkaliber nasional.
Saat ini GRPM dikendalikan oleh PMUI sebesar 70,67% atau 1,09 miliar saham. PT Tunas Binatama Lestari akan membeli 144 juta saham GRPM, sekitar 9,33% sisanya milik Direktur Utama GRPM sekaligus PMUI Agus Susanto. Transaksi ini berpotensi mengubah komposisi pemegang saham utama dan dinamika kendali perseroan.
Dalam term-sheet yang ditandatangani pada 12 Februari 2026, kesepakatan itu bersifat tidak mengikat (non-binding) dan masih dalam tahap negosiasi lebih lanjut. Agus Susanto menegaskan bahwa kelanjutan perjanjian bergantung pada proses uji tuntas, persyaratan internal, serta persetujuan dari OJK dan BEI. Secara keseluruhan, jalan akuisisi ini masih terbuka lebar dan bisa bergeser mengikuti temuan due diligence serta dinamika regulator.
GRPM resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Juli 2023 dan beroperasi sebagai distributor makanan dan minuman. Sejak 2007, GRPM ditetapkan sebagai distributor resmi Coca Cola, menunjukkan posisi penting dalam rantai pasokan minuman. Pada 2016, perusahaan memperluas portofolio dengan menjadi distributor Kino Indonesia Tbk.
PMUI diketahui melakukan IPO pada Juli 2025 dan merupakan induk dari GRPM, dengan operasi di segmen distribusi XL serta penjualan aksesoris ponsel. Keberadaan PMUI sebagai pemegang saham utama GRPM memberi arah strategis yang menarik bagi para investor yang menyimak langkah konsern ke arah rekanan usaha FMCG. Penempatan saham dan dinamika kepemilikan ini bisa mempengaruhi rencana ekspansi GRPM ke segmen baru.
Sementara itu, Rimau Group dikenal memiliki bisnis tambang batu bara dengan konsesi di Kalimantan Tengah di sekitar PLTU. Alasan spesifik terkait minat akuisisi GRPM belum dijelaskan secara resmi, meskipun spekulasi pasar menyebut potensi sinergi di sisi jaringan distribusi dan konektivitas logistik. Kisahnya juga tertolong oleh pergerakan saham GRPM yang menampilkan ARB bawah sebesar 10% di Rp438 pada perdagangan Jumat 13 Februari 2026, sementara PMUI diperdagangkan stabil di Rp134.
Proses akuisisi ini tetap bergantung pada uji tuntas, persetujuan OJK dan BEI, serta penilaian pasar terhadap kepemilikan baru. Para analis menilai bahwa hasil akhir akan mempengaruhi struktur biaya, jaringan distribusi, dan persepsi investor terhadap GRPM di jangka menengah. Di sisi lain, dinamika regulasi dan pelaksanaan due diligence menjadi bantalan utama bagi setiap langkah negosiasi.
Perubahan kepemilikan dapat mempengaruhi likuiditas GRPM dan arah strategi distribusi Coca Cola Indonesia, meskipun belum ada rencana operasional yang diumumkan terkait integrasi. Investor perlu memantau perkembangan regulasi serta level persetujuan dari otoritas terkait guna menilai risiko dan peluang yang muncul. Secara umum, aksi ini menandai potensi konsolidasi di sektor distribusi FMCG yang bisa menarik bagi pemegang saham jangka menengah.
Analisis sinyal trading berdasarkan isi artikel menunjukkan sinyal 'no', karena tidak ada data harga atau rekomendasi trading yang jelas. Risiko-imbalan disebut seimbang, sebab tidak ada konfirmasi harga dan aliran transaksi. Cetro Trading Insight mencatat bahwa pergerakan harga GRPM pasca kabar akuisisi akan sangat bergantung pada hasil due diligence, uji tuntas, serta persetujuan regulator.