Riset Deutsche Bank menunjukkan sentiment risiko membaik di pasar saham dan kredit, sehingga optimisme sempat meningkat meskipun faktor-faktor tetap menahan laju. Namun, kenaikan imbal hasil pada obligasi AS serta berkurangnya peluang pemotongan suku bunga Federal Reserve menimbang sentiment terhadap logam mulia. Pasar menilai bahwa risiko tetap ada meskipun suasana lebih tenang dibanding beberapa minggu sebelumnya.
Pergerakan yield menjadi fokus utama. Imbal hasil 10-tahun melonjak menjadi 4.05% sedangkan imbal hasil dua tahun naik menuju 3.47%, menunjukkan kurva imbal hasil yang masih bergerak. Kondisi ini menahan daya tarik logam mulia sebagai lindung nilai karena biaya peluang kepemilikan logam ini meningkat.
Lelang surat utang 5-tahun yang lemah menambah tanda bahwa permintaan durasi melemah setelah reli belakangan. Pasar mencatat bahwa $70 miliar obligasi dipasarkan dengan yield sedikit di atas pra-penjualan, dan minat pembeli utama mencapai tertinggi sejak Maret tahun lalu. Dengan lelang 7-tahun sebagai ujian berikutnya, pelaku pasar menilai apakah permintaan akan pulih atau melunak lebih lanjut.
Pergerakan di kurva imbal hasil mencerminkan perubahan preferensi risiko di kalangan investor. Kenaikan yields mendorong investor untuk menilai kembali alokasi ke aset berisiko dan menimbang logam mulia sebagai lindung nilai. Kondisi ini menunjukkan bahwa meski sentimen risiko membaik, biaya peluang kepemilikan logam mulia meningkat saat imbal hasil naik.
Di bagian tengah dan ujung kurva, pergerakan yield tidak selalu selaras dengan dorongan permintaan durasi. Tekanan di pasar durasi mencerminkan perubahan dinamika investor di berbagai jangka waktu. Meskipun rally terakhir memberi dukungan sementara, tanda-tanda permintaan durasi melambat menambah volatilitas.
Lelang 7-tahun yang akan datang dipandang sebagai ujian bagi pembeli institusional. Hasil lelang bisa mengungkap apakah permintaan terhadap durasi masih kuat meski kondisi ekonomi global berubah. Secara umum, pasar menunggu petunjuk kebijakan moneter untuk menilai peluang pelonggaran lebih lanjut.
Headwind utama bagi logam mulia datang dari meningkatnya biaya peluang akibat imbal hasil yang lebih tinggi. Investor cenderung beralih ke instrumen berpenghasilan tetap dalam kondisi yield naik. Akibatnya, pergerakan harga logam mulia menghadapi tekanan jual meskipun permintaan safe-haven tetap ada.
Namun, jika imbal hasil stabil atau turun mendekati level rendah, logam mulia berpeluang untuk memulai koreksi ke atas. Faktor volatilitas pasar dan ketidakpastian kebijakan moneter tetap menjadi risiko maupun peluang. Investor perlu menantikan konfirmasi arah pasar melalui data ekonomi berikutnya.
Yang perlu diawasi adalah lelang durasi yang akan datang (7-tahun). Tanda-tanda permintaan kuat bisa menjadi katalis bagi logam mulia untuk rebound terhadap tekanan saat ini. Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight.