Industri roti nasional berada di pusat dinamika permintaan konsumen, dan Cetro Trading Insight menilai ROTI sebagai barometer utama kinerja sektor ini. ROTI tetap produsen roti terbesar di Indonesia, namun laporan 2025 menandai tantangan profitabilitas meski volume penjualan relatif stabil. Para analis juga memantau parameter makro, termasuk update harga emas antam, sebagai gambaran likuiditas dan alokasi dana investor.
Laba bersih ROTI turun 29% menjadi Rp259 miliar dibanding 2024 Rp363 miliar. Pendapatan turun 4,4% menjadi Rp3,76 triliun dari Rp3,93 triliun. Laba kotor turun 7% menjadi Rp1,99 triliun karena beban pokok penjualan relatif tidak banyak berubah.
Di kuartal IV-2025, pendapatan ROTI menembus Rp1,01 triliun, tumbuh 6% YoY dan 4,5% QoQ. Manajemen sebelumnya memproyeksikan tren peningkatan penjualan mulai kuartal II-2026 seiring membaiknya daya beli. Analisis Array internal ROTI menunjukkan potensi margin yang lebih baik di kuartal-kuartal mendatang.
ROTI memasuki periode ini dengan fokus pada inovasi produk untuk menjaga daya tarik konsumen dan memperluas saluran distribusi. Langkah ini sejalan dengan upaya untuk memperkuat posisi sebagai produsen roti terbesar di Indonesia dan meningkatkan diversifikasi produk.
ROTI meluncurkan Cream Messes Bun, Cheesecake Duo, Mini Cupcakes, Croissant Chocolate, serta sejumlah varian Dorayaki. Sejalan dengan inovasi, perusahaan membangun ekosistem melalui pendirian PT Javasari Mitra Prima untuk memasok roti, kue, dan pastries segmen premium bagi flagship store JAVASARI. Dalam konteks volatilitas harga komoditas, update harga emas antam sering menjadi referensi investor untuk menilai likuiditas.
Array data pasar menunjukkan respons konsumen terhadap varian premium dan strategi harga yang disesuaikan dengan permintaan; ini menandai arah investasi jangka panjang ROTI dalam portofolio produk. Rencana investasi pada produk dan inovasi usaha menegaskan komitmen ROTI terhadap pertumbuhan berkelanjutan.
Kinerja kuartal IV-2025 memberikan sinyal pemulihan menjelang 2026, dengan manajemen menargetkan tren positif yang berlanjut sepanjang tahun. Pemulihan daya beli menjadi faktor kunci yang didorong oleh pelonggaran biaya dan perbaikan kondisi konsumsi rumah tangga.
ROTI menegaskan proyeksi peningkatan penjualan mulai Q2-2026 seiring membaiknya daya beli konsumen. Kondisi pasar global, termasuk update harga emas antam, mempengaruhi volatilitas biaya dan kebijakan harga perusahaan. Proyeksi ini sejalan dengan strategi modernisasi lini produk dan perluasan jaringan distribusi.
Array analitik menunjukkan peluang margin yang lebih baik meskipun ada risiko operasional dan biaya. Dengan demikian, ROTI tetap fokus pada efisiensi, inovasi produk, dan penguatan rantai pasokan untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan di 2026.