Rupiah berhadapan dengan badai ketidakpastian global, di mana sinyal pemotongan suku bunga AS dan dinamika data tenaga kerja menjadi penentu arah pasar. Harga bergerak fluktuatif, menahan arah meski data domestik relatif suportif. Menurut Cetro Trading Insight, momentum saat ini lebih dipicu oleh sentimen global daripada kekuatan domestik semata.
Data penggajian Januari menunjukkan beberapa tanda ketahanan tenaga kerja di AS, meningkatkan kekhawatiran bahwa laju pemotongan suku bunga bisa lebih lama dari yang diperkirakan. Dolar AS rebound dari level terendah mingguan setelah laporan tersebut, menegaskan peran data pasar tenaga kerja dalam memandu kebijakan moneter. Pasar sekarang menanti rilis CPI Januari untuk petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan Federal Reserve.
Selain faktor AS, geopolitik Timur Tengah masih menambah risiko di pasar global, meski beberapa tanda meredanya negosiasi nuklir mengurangi kepanikan pasokan. Pasar juga dihadapkan pada dinamika harga energi dan volatilitas lintas benua yang bisa memperpanjang volatilitas rupiah. Dari sisi domestik, fundamental Indonesia tetap kuat, dengan peluang ekspor dan daya saing manufaktur sebagai pilar penopang jangka menengah.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan sekitar 5% pada 2026, meski ada potensi hambatan dari perlambatan ekonomi global. Pelonggaran kebijakan moneter global diperkirakan berlanjut seiring tren inflasi yang mereda, sehingga bank sentral negara maju cenderung akomodatif. Dalam konteks ini, arah rupiah tetap sensitif terhadap arus modal dan ekspektasi inflasi.
Indonesia memiliki potensi ekspor lintas negara yang didorong kapasitas manufaktur, ketersediaan tenaga kerja terampil, biaya tenaga kerja yang kompetitif, dan lingkungan bisnis yang prospektif. Berdasarkan analisis relatif, indeks potensi ekspor Indonesia berada di posisi lima di bawah China dan Vietnam, menandakan ruang pertumbuhan meski kompetisi sengit. Peluang tersebut bisa memanfaatkan momentum permintaan global yang berjalan membaik.
Secara menengah, fundamental Indonesia dipandang tetap kuat sehingga memberi fondasi bagi perbaikan ekonomi di tengah ketidakpastian regional. Negara ini memiliki potensi untuk memanfaatkan peningkatan produksi dan pasokan global, meski realisasi investasi perlu dipercepat agar stabilitas rupiah terjaga. Diperlukan reformasi berkelanjutan pada konsumsi swasta dan investasi agar pertumbuhan tidak hanya bersifat sementara.
Untuk perdagangan minggu depan, rupiah diperkirakan terus fluktuatif dengan arah yang masih terkonsolidasikan, karena faktor global dan kebijakan domestik saling mempengaruhi. Rentang penutupan yang disebutkan berada di kisaran Rp16.830–Rp16.860 per USD, menandai adanya peluang pergerakan lanjutan jika data inflasi AS mengejutkan. Dalam konteks ini, sinyal secara umum cenderung mendukung posisi long USDIDR bagi trader yang mengikuti arah pasar global.
Strategi yang dianjurkan adalah membuka posisi long USDIDR dengan open sekitar Rp16.836, target keuntungan Rp16.860, dan stop loss di Rp16.820. Rasio risiko-imbalan yang diusung adalah sekitar 1:1,5, sejalan dengan ekspektasi volatilitas dan dinamika pasar. Rencana ini konsisten dengan analisa fundamental yang menimbang kekuatan data pekerjaan AS dan keluaran CPI yang akan datang.
Catatan risiko utama adalah volatilitas yang bisa meningkat akibat berita geopolitik atau perubahan kebijakan moneter global. Oleh karena itu, manajemen risiko tetap diperlukan: sesuaikan ukuran posisi dan pertimbangkan exit plan jika pergerakan harga bertentangan dari ekspektasi. Cetro Trading Insight merekomendasikan evaluasi ulang secara berkala terhadap parameter entry, stop, dan take profit seiring perubahan data ekonomi.