Rupiah berada di pusaran arus global yang menguat dan melemah, dipicu oleh rilis risalah FOMC dan negosiasi perdagangan AS-Indonesia. Pasar keuangan menyaksikan volatilitas yang meningkat, seiring para pelaku pasar menimbang langkah-langkah yang mungkin diambil bank sentral AS. Dalam konteks ini, arah rupiah menjadi cerminan dinamika dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah.
Data pekan ini menunjukkan rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,04 persen di level Rp16.888 per USD pada Jumat, setelah tertahan dua pekan terakhir. Sementara itu Jisdor BI menguat 0,23 persen ke Rp16.885 per USD. Secara keseluruhan, rupiah melemah sekitar 0,24 persen sepanjang minggu.
Analisis yang dirilis menilai tekanan terhadap rupiah ditopang risalah rapat FOMC bulan Januari yang bernada hawkish. Pengamat menyebut pemotongan suku bunga jangka pendek tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat, sehingga dolar AS dan imbal hasil obligasi tetap kukuh. Kondisi ini menambah tekanan pada logam mulia yang tidak menghadirkan imbal hasil seperti emas.
Rilis risalah FOMC yang terkini menunjukkan nada hawkish, yang meningkatkan ekspektasi tidak adanya pemotongan suku bunga dalam waktu dekat. Hal itu membuat dolar menguat secara umum dan menjaga spread imbal hasil tetap tinggi, sehingga mata uang negara berkembang seperti rupiah menghadapi tantangan lebih besar.
Ketika data ketenagakerjaan AS keluar lebih baik dari ekspektasi, posisi dolar AS semakin kuat; data tersebut memperkokoh sentimen bahwa kebijakan moneter bank sentral belum akan melunak. Pendorong ini turut menekan logam mulia yang biasanya bersifat unsafe-haven pada saat risiko global meningkat.
Dalam konteks pasar, kombinasi proyeksi suku bunga AS dan duel dinamika ekonomi global juga berdampak pada arus modal serta volatilitas mata uang. Dengan demikian pergerakan rupiah diprediksi tetap sensitif terhadap perkembangan di Amerika Serikat dan kebijakan The Fed.
Di dalam negeri perhatian pasar tertuju pada kemajuan dokumen perdagangan berjudul Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance yang ditandatangani di Washington DC. Kesepakatan tersebut menjadi simbol kerja sama ekonomi antara kedua negara meskipun tantangan global tetap ada. Pemangku kepentingan berharap dialog dagang bisa mengurangi tekanan terhadap rupiah ke depannya.
Meski ada beberapa sinyal kemajuan, dolar AS tetap membayangi pergerakan rupiah dan diperkirakan berada dalam rentang Rp16.880 hingga Rp16.910 per USD pada perdagangan mendatang. Pelaku pasar menyoroti dinamika suku bunga serta potensi gejolak ekonomi global yang bisa memicu perubahan besar pada nilai tukar.
Melihat konteks ini, Cetro Trading Insight menekankan pentingnya pendekatan strategis bagi pelaku pasar. Analisis kami menilai bahwa bias umum tetap netral dengan penekanan pada manajemen risiko dan pencarian konfirmasi tren sebelum mengambil posisi. Perkiraan teknis akan terus disesuaikan seiring dengan rilis data penting berikutnya.