Tahun 2026 dinilai sebagai fase pergeseran besar dalam strategi investasi di Indonesia, seiring masuknya Tahun Kuda Api yang identik dengan percepatan, volatilitas, dan persaingan ketat antar emiten. Para investor dipaksa menimbang ulang komposisi portofolio agar tidak tertinggal oleh dinamika perubahan. Cetro Trading Insight melihat perubahan ini sebagai katalis pembaruan, bukan sekadar perbedaan kalender.
Menurut Kiwoom Sekuritas, momentum tahun ini bisa menjadi ujian bagi strategi konvensional. Reformasi struktural dan tata kelola yang lebih kuat diharapkan memperkuat fondasi pasar, meski sisa isu transparansi serta friksi regulasi tetap ada sebagai risiko. Secara global, proyeksi PDB dunia 2026 diperkirakan mencapai USD123,6 triliun dengan kontribusi besar dari Amerika Serikat, China, dan Indonesia.
Kiwoom menekankan rotasi sektor sebagai elemen kunci; tidak lagi cukup mengandalkan pembelian pasif. Pasar diprediksi bergerak cepat, sehingga investor perlu aktif melakukan rebalancing dan memanfaatkan momentum. Era Kuda Api mendorong eksposur pada tema digital, infrastruktur digital, dan kecerdasan buatan sebagai pendorong pertumbuhan berbasis narasi masa depan.
Rotasi percepatan pasar menantang strategi buy and hold tradisional. Instrumen berisiko tinggi bisa menghasilkan imbal hasil cepat, tetapi risiko koreksi juga meningkat. Dalam konteks ini, displin take profit dan manajemen volatilitas menjadi keharusan bagi investor yang ingin menjaga modal.
Kebijakan ekspansi dan adopsi teknologi menjadi katalis di banyak sektor yang sedang menarik minat investor. Tema digital ecosystem, infrastruktur digital, dan AI dipandang sebagai representasi 'kayu menjadi bahan bakar api'—pertumbuhan agresif yang menarasikan peluang di masa depan. Pada saat bersamaan, sektor dengan kinerja instan dan dukungan makro tetap mencatat peluang, meski risikonya berbeda.
Sektor-sektor pendukung seperti infrastruktur, properti dengan pendapatan berulang, utilitas, dan bahan baku berkapitalisasi sebagai penyeimbang portofolio ketika aliran dana keluar dari saham high growth. Sektor konvensional dengan hambatan struktural dapat tertinggal jika kita terlalu konservatif dalam iklim yang sedang reli, sehingga sebagian investor perlu mengurangi eksposur pada kelompok tersebut.
Dalam rangka 2026, Kiwoom meracik portofolio saham unggulan dengan narasi spesifik dan pertumbuhan yang didorong oleh momentum. Sektor perbankan dan konsumsi tetap menjadi fokus, dengan pilihan pada emiten yang memiliki potensi pertumbuhan sejalan dengan reformasi kebijakan serta digitalisasi ekonomi. Sementara itu, pundak penyangga portofolio diarahkan ke saham berprofil lebih defensif namun dengan peluang kenaikan di pasar yang likuid.
Daftar saham pilihan mencakup beberapa emiten terkemuka: BMRI, BTPS, INKP, ERAL, JPFA, INET, TRIN, ENRG, TLKM, dan RMKE. Target harga ditetapkan berdasarkan potensi pertumbuhan kapasitas produksi, ekspansi jaringan, dan narasi transformasi industri, dengan fokus pada penguatan margin dan ekspansi pasar.
Investasi dalam era ini menuntut adaptif dan ketepatan timing. Exit strategy sama pentingnya dengan entry, karena yang tercepat beradaptasi dengan volatilitas memiliki peluang mencetak alpha. Investor perlu menjaga disiplin manajemen risiko dan mematuhi rencana investasi agar hasilnya berkelanjutan.
| Saham | Target Harga (Rp) | Sektor |
|---|---|---|
| BMRI | 5.950 | Perbankan |
| BTPS | 1.635 | Keuangan Syariah |
| INKP | 10.800 | Pulp & Kertas |
| ERAL | 540 | Otomotif & Ritel |
| JPFA | 3.110 | Poultry |
| INET | 630 | Infrastruktur Digital |
| TRIN | 1.650 | Properti |
| ENRG | 2.000 | Energi |
| TLKM | 4.000 | Telekomunikasi |
| RMKE | 13.100 | Energi/Logistik |