TD Securities: PDB AS Diperkirakan Tumbuh 2,3% di Q4 2025, Potensi Resesi 25% Menuju 2026

TD Securities: PDB AS Diperkirakan Tumbuh 2,3% di Q4 2025, Potensi Resesi 25% Menuju 2026

trading sekarang

Sebagai publikasi dari Cetro Trading Insight, analis raport ini memaparkan bahwa TD Securities memperkirakan PDB AS tumbuh 2,3% secara q/q annualized pada Q4 2025, menandai perlambatan setelah beberapa kuartal kuat. Proyeksi ini dipicu moderasi belanja konsumen, kontraksi pengeluaran pemerintah federal, serta drag dari neraca perdagangan netto. Dinamika fiskal dan kebijakan moneter menjadi penentu utama jalur pertumbuhan ke depan.

Dalam gambaran yang lebih luas, pertumbuhan output diperkirakan kembali ke level potensi secara bertahap menuju 2026, dengan laju sekitar 2,3% pada Q4 dibandingkan Q4 2025. Peluang resesi dinilai sekitar 25% sepanjang tahun mendatang, menandai risiko yang relevan bagi pasar. Perubahan pola perdagangan dan sinyal kebijakan fiskal akan menjadi kunci arah ekonomi di masa mendatang.

Meski momentum melambat, investasi terkait AI diperkirakan tetap mendorong belanja modal, memberikan dukungan bagi kapasitas produksi meski daya beli rumah tangga sedang moderat. Rincian data GDP pekan ini diharapkan memperbarui pandangan mengenai lintasan pertumbuhan. Ketidakpastian kebijakan perdagangan dan fiskal tetap menjadi faktor yang perlu diawasi oleh pelaku pasar.

Output diperkirakan perlahan menuju potensi sepanjang sisa 2025 hingga 2026, didorong oleh stabilisasi pasar tenaga kerja. Kebijakan moneter kemungkinan akan menyesuaikan postur seiring perubahan dinamika ekonomi, dengan fleksibilitas untuk merespons data pekerjaan. Selain itu, pengembalian pajak yang lebih besar dipropesikan mendukung konsumsi pada paruh pertama 2026.

Inflasi melalui ukuran PCE di Desember diperkirakan moderat meskipun tetap berada di ujung atas rentang target, sinyal transisi menuju dinamika inflasi yang lebih tenang. Respons kebijakan moneter diperkirakan tetap adaptif untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan inflasi, seiring perbaikan pasar tenaga kerja.

Dukungan fiskal melalui insentif pajak dan program belanja diperkirakan memperkuat konsumsi di paruh pertama 2026. Kenaikan pengangguran diperkirakan melambat menjadi sekitar 4,2% pada Q4 2026, memberikan fondasi stabil bagi proyeksi pertumbuhan dan menguatkan pemulihan ekonomi.

Peluang resesi diperkirakan sekitar 25% dalam 12 bulan ke depan, menunjukkan bahwa risiko ekonomi tetap signifikan meskipun pertumbuhan relatif moderat. Perkembangan data ekonomi utama bisa memperbesar gelombang volatilitas di pasar keuangan dan mengubah persepsi risiko global.

Kebijakan moneter diperkirakan akan disesuaikan secara bertahap seiring Fed mengkalibrasi kebijakan akibat pelonggaran moderat pada pasar tenaga kerja. Kebijakan fiskal juga berpotensi memberi dukungan lewat pengembalian pajak dan belanja fiskal untuk mengurangi tekanan pada konsumsi rumah tangga.

Investor disarankan memantau indikator kunci seperti laporan PCE, laporan pekerjaan, dan tren perdagangan untuk menilai arah dolar AS dan pasangan mata uang utama. Namun, meskipun ada peluang, risiko geopolitik dan fluktuasi global tetap mengharuskan manajemen risiko yang tepat.

broker terbaik indonesia