URBN melangkah ke panggung properti Indonesia dengan gebrakan TOD yang menantang konvensi kota modern. Perusahaan ini membangun masa depan hidup dan bekerja melalui kedekatan hunian vertikal dengan akses transportasi publik. Dalam lanskap persaingan, URBN menonjol sebagai pelopor TOD yang menggabungkan kenyamanan, mobilitas, dan nilai properti.
Harga saham URBN berada di kisaran Rp212 per unit pada sesi perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, mencerminkan respons pasar terhadap kisah pertumbuhan perusahaan. Pada hari itu, URBN tercatat sebagai salah satu top gainer dengan kenaikan sekitar 18,44 persen dari harga pembukaan. Momen ini menggambarkan minat investor terhadap potensi jangka panjang URBN dalam mengoptimalkan TOD di kota-kota besar.
Dari sisi analisis publik, URBN diperdagangkan di papan pengembangan BEI sebagai emiten properti dan real estat yang mendorong kemajuan proyek TOD. Cetro Trading Insight menilai bahwa fundamental perusahaan tetap kuat berkat kemitraan strategis dengan Adhi Commuter Properti dan rekam jejak inovatif dalam pengembangan hunian vertikal. Informasi ini relevan bagi pembaca kami karena menegaskan bagaimana sinergi infrastruktur publik bisa memperkuat nilai properti dan daya tarik investasi.
URBN mengelola lima proyek hunian vertikal TOD yang terintegrasi dengan stasiun LRT Jakarta-Bekasi, menunjukkan fokus perusahaan pada mobilitas kota. Proyek utama meliputi Urban Signature LRT City Ciracas, Jakarta River City LRT Ciliwung, Gateway Park LRT Jatibening, Urban Suites LRT Cikunir 1, serta Urban City LRT Cikuni 2. Kelima proyek ini dirancang untuk memperpendek jarak antara tempat tinggal dan akses transportasi publik, sehingga meningkatkan kenyamanan hidup penghuni.
URBN menjalin kerja sama dengan Adhi Commuter Properti untuk menggarap proyek-proyek TOD tersebut, menguatkan kapasitas ekosistem pengembang dalam mengakselerasi konstruksi dan operasional. Kolaborasi ini menjadi pilar penting karena memperluas portofolio dan mempererat kepemilikan pasar properti dengan mitra berpengalaman di sektor transportasi. Investor juga perlu memantau bagaimana kemitraan tersebut berdampak pada biaya, jadwal, dan kualitas fasilitas di tiap proyek.
Kegiatan usaha utama URBN mencakup konstruksi gedung dan real estat, dengan lini bisnis tambahan seperti jasa media dan internet serta persewaan bangunan dan pergudangan. Struktur pendapatan perusahaan berasal dari penjualan unit, sewa properti komersial, dan layanan pendukung yang memungkinkan diversifikasi aliran kas. Dalam konteks industri properti Indonesia, URBN menonjol karena pendekatan TOD yang memberi nilai tambah melalui konektivitas transportasi publik.
Sejarah URBN dimulai pada 1996 dengan nama PT Samsung Development, dan kemudian diakuisisi oleh PT Nusa Wijaya Propertindo pada 2016 sebelum transformasi namanya menjadi Urban Jakarta Propertindo. Perubahan ini menandai pergeseran fokus perusahaan ke integrasi properti dengan infrastruktur transportasi. Data menunjukkan bahwa kepemilikan mayoritas akhirnya berada di tangan Nusa Wijaya Propertindo dengan posisi kendali yang kuat di pasar modal Indonesia.
URBN melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2018 dengan IPO yang menawarkan harga Rp1.200 per saham, sehingga berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp432 miliar. Data kepemilikan yang dilaporkan per Januari 2026 menunjukkan kendali mayoritas dipegang oleh PT Nusa Wijaya Propertindo dengan 74,29 persen. Pemegang saham publik dan pihak terkait memiliki sisa kepemilikan, sementara penerima manfaat akhir adalah Yongky Wijaya.
Kepemilikan mayoritas yang terpelihara secara stabil dapat mempengaruhi arah kebijakan perusahaan dan strategi ekspansi TOD ke wilayah lain. Ibukota Development berada di urutan kedua dengan kepemilikan sekitar 9,61 persen, disusul masyarakat publik sebesar 13,06 persen. Fenomena ini memampukan investor ritel untuk berpartisipasi dalam kepemilikan sambil menilai kebijakan tata kelola perusahaan yang berpotensi menguntungkan dalam jangka menengah.