USD Tertekan setelah Lonjakan Tertinggi: Data AS dan Arus TIC Ubah Prospek Kebijakan Fed

USD Tertekan setelah Lonjakan Tertinggi: Data AS dan Arus TIC Ubah Prospek Kebijakan Fed

trading sekarang

Dolar AS sedikit mundur setelah menjajal level tertinggi sejak 2 Desember, menurut analisis Valas BBH. Pergerakannya mencerminkan dinamika pasar yang cenderung berhati-hati ketika menilai data-data terbaru. Pasar juga menimbang faktor teknikal dan ekspektasi perdagangan sebagai bagian dari pergerakan jangka pendek.

Indeks dolar (DXY) terlihat berupaya menjaga level psikologis 100, meskipun data AS disinyalir sebagai Goldilocks—elemen yang tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin—yang menahan volatilitasnya. Kondisi ini menyiratkan bahwa tekanan inflasi yang pelan menambah ruang bagi bank sentral untuk menilai langkah lebih lanjut. Para analis memperingatkan bahwa momentum ke atas DXY bisa sulit bertahan jika faktor-faktor eksternal mereda lebih lanjut.

Klaim tunjangan pengangguran awal untuk minggu yang berakhir 10 Januari turun di bawah 200 ribu, menunjukkan bahwa dinamika PHK tidak sedang memicu turbulensi pekerjaan. Secara historis, klaim di bawah level tersebut jarang tercatat dalam beberapa tahun terakhir. Namun risiko pelemahan pasar tenaga kerja tetap ada karena sebagian besar pertumbuhan pekerjaan 2025 terkonsentrasi pada sektor pendidikan dan layanan kesehatan.

Data Tenaga Kerja AS dan Implikasinya terhadap Kebijakan Moneter

Klaim pengangguran awal yang turun di bawah 200 ribu menegaskan bahwa perlambatan PHK belum menjadi pola yang meluas. Data ini menambah spekulasi bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk menilai langkah pemangkasan lebih lanjut tanpa mengorbankan stabilitas pekerjaan. Namun, dinamika tenaga kerja tetap menjadi komponen yang sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter.

Data Treasury International Capital (TIC) menunjukkan investor asing menambah kepemilikan sekuritas jangka panjang AS sebesar sekitar 1.569 miliar dolar dalam 12 bulan hingga November. Angka ini sangat besar bila dibandingkan dengan defisit perdagangan AS yang mencapai sekitar 960 miliar dolar hingga Oktober. Ketergantungan pada arus modal ini menambah kompleksitas bagi valuta USD sebagai instrumen global.

Penguatan aliran modal asing menimbulkan implikasi struktural bagi USD, terutama jika upaya menyeimbangkan defisit perdagangan terus berlanjut. Jika arus modal menurun atau berubah arah, tekanan terhadap dolar bisa membesar. Dalam konteks fiskal dan kebijakan, dinamika ini membentuk kerangka bagi bagaimana pasar menilai potensi transformasi kebijakan moneter ke depan.

Arus Modal Luar Negeri dan Defisit Perdagangan sebagai Beban USD

Dalam kerangka konteks ekonomi AS, aliran modal saat ini menyoroti bahwa investor asing masih melihat aset AS sebagai tempat penyimpanan nilai jangka panjang. Meski demikian, pola ini juga meningkatkan kerentanan dolar terhadap perubahan persepsi risiko global dan kebijakan fiskal. Para analis menekankan bahwa faktor-faktor ini bisa mempengaruhi arah dolar dalam jangka menengah.

Dengan pelonggaran inflasi yang berlanjut dan kemudahan akses terhadap pembiayaan, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed bisa meningkat. Meski demikian, dinamika pasar tetap rentan terhadap kejutan data tenaga kerja dan perubahan sikap investor terhadap defisit perdagangan. Secara umum, potensi pergerakan USD masih bergantung pada bagaimana data ekonomi AS berkembang dan bagaimana arus modal berubah.

Secara trading, pembaca disarankan untuk menilai dinamika fundamen terlebih dahulu sebelum mengambil posisi. Karena rekomendasi sinyal saat ini belum didukung kerangka teknis yang spesifik untuk instrumen tertentu, fokuslah pada manajemen risiko dan kehati-hatian dalam menimbang ekspektasi terhadap fleksibilitas kebijakan moneter. Sinyal trading untuk instrumen spesifik belum dapat ditetapkan berdasarkan informasi yang ada.

broker terbaik indonesia