Pembahasan kebijakan fiskal Jepang menjelang pemilihan umum Februari menciptakan tekanan jual pada obligasi pemerintah berdenominasi yen. Investor menilai paket fiskal baru berpotensi meningkatkan defisit dan beban utang, sehingga permintaan terhadap obligasi tenor panjang menurun. Respons pasar terlihat dari lonjakan imbal hasil JGB 30 tahun yang melonjak sekitar 25 basis poin pada sesi terakhir.
Di sisi lain, ekspektasi inflasi yang lebih tinggi bersaing dengan dinamika suku bunga riil yang menurun, sehingga daya tarik real yield Jepang berkurang. Para analis, seperti Chris Turner dari ING, menyoroti bahwa perubahan ini memperkuat tekanan pada yen dan memperumit efektivitas intervensi valuta asing ke depan. Ketidakpastian kebijakan fiskal menambah volatilitas di pasar aset berisiko, termasuk valuta asing.
Langkah penghapusan pajak makanan sebesar 8% selama dua tahun, meski dimaksudkan meredakan beban rumah tangga, tidak langsung mengangkat permintaan obligasi. Pasar obligasi menyerap berita fiskal, tetapi harga JGB tetap mencerminkan keragu-raguan mengenai bagaimana fiskal baru akan mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan. Secara umum, interaksi antara kebijakan fiskal, ekspektasi inflasi, dan penentuan harga aset berisiko membuat pergerakan USD/JPY lebih rentan terhadap sentimen fiskal.
Yen telah menunjukkan pelemahan berkelanjutan terhadap dolar AS seiring pergeseran ekspektasi inflasi dan penundaan pengetatan oleh Bank of Japan. Perbedaan kebijakan ini menjaga volatilitas USD/JPY pada level tinggi karena investor mengamati bagaimana suku bunga riil Jepang menyesuaikan diri dengan tekanan global. Kondisi ini menjaga volatilitas yen di tengah arus dana risiko yang berfluktuasi.
Guncangan pada pasar obligasi global menambah potensi volatilitas yen, karena kelas aset terikat pada imbal hasil dan ekspektasi inflasi. Data terkait JGB yang terkait inflasi sepanjang sembilan tahun menunjukkan ekspektasi inflasi naik menjadi sekitar 1,9%, memberi sinyal bahwa saat ini pasar menilai tekanan inflasi lebih besar dari sebelumnya. Hal ini memperkuat narasi bahwa ada ruang bagi yen untuk melemah lebih lanjut dalam jangka pendek.
Secara teknikal, USD/JPY tampak mendekati zona intervensi di sekitar 159–160 jika tekanan jual berlanjut. BoJ masih berjalan lambat dalam pelonggaran kebijakan, sehingga sumbu suku bunga riil tetap rendah dan mewarnai pergerakan pasangan ini. Ketidakpastian politik fiskal Jepang menambah peluang volatilitas, sekaligus menguji kesiapan intervensi pemerintah untuk menahan pelemahan yen.
Aksi jual pada obligasi JGB berpotensi menarik USD/JPY ke area intervensi, memaksa pelaku pasar menilai sinyal kebijakan dari pemerintah dan BoJ. Kondisi ini meningkatkan likuiditas pasar valuta asing dan menambah tekanan pada level harga jangka pendek. Dalam konteks ini, pedagang perlu memantau dinamika imbal hasil global serta langkah-langkah koordinasi kebijakan untuk menilai arah berikutnya.
Keberhasilan intervensi yen tetap bergantung pada sinergi antara kebijakan fiskal dan respons pasar. Jika kebijakan fiskal Jepang dilihat memperburuk ekspektasi inflasi dan pertumbuhan, maka efektivitas intervensi bisa menurun. Namun, jika kebijakan tersebut membuka jalur stabilitas fiskal, intervensi dapat memberikan jeda sementara bagi yen.
Bagi pelaku pasar, fokus utama adalah memantau pernyataan kebijakan pemerintah dan BoJ, dinamika imbal hasil global, serta reaksi pasar terhadap potensi intervensi. Level sekitar 159–160 menjadi titik pantau penting untuk USD/JPY dalam beberapa sesi mendatang. Sinyal trading yang lebih konkret akan bergantung pada konfirmasi kebijakan, bukan pada spekulasi teknikal semata.