Volatilitas Harga Brent Meningkat Didukung Pembicaraan Iran–AS dan Proyeksi Pasokan Global

trading sekarang

Tim komoditas Commerzbank yang dipimpin Barbara Lambrecht mencatat adanya peningkatan volatilitas pada pasar minyak. Pergerakan harga dipicu oleh dinamika pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran serta revisi proyeksi dari lembaga seperti IEA, EIA, dan OPEC. Pasar juga merespons perubahan ekspektasi permintaan global akibat cuaca ekstrem dan gangguan pasokan.

Analisis menunjukkan dukungan jangka pendek untuk Brent berasal dari badai musim dingin dan pemadaman yang memangkas pasokan serta memperkuat permintaan di pasar. Meskipun demikian, para analis juga menyoroti bahwa kelebihan pasokan diproyeksikan tetap menjadi risiko utama pada 2026 karena peningkatan output OPEC+. Hal ini menandai dinamika yang berseberangan antara dorongan jangka pendek dan tekanan struktur jangka panjang.

Peta risiko pasar berpusat pada hasil pembicaraan Iran–AS. Jika negosiasi berjalan mulus, pasar bisa menahan kenaikan; tetapi jika situasinya memburuk, harga Brent bisa menunjukkan gerak naik lebih lanjut hingga mendekati 70 dolar AS per barel. Ketidakpastian politik menjadi kunci penggerak volatilitas dalam beberapa minggu mendatang.

Harga minyak saat ini menghadapi tekanan menjelang pembicaraan Iran–AS, dengan pasar menimbang harapan akan meredanya konflik terhadap risiko baru yang muncul. Tekanan tersebut membuat pergerakan Brent lebih sensitif terhadap berita geopolitik dan langkah-langkah kebijakan energi negara besar. Analisis teknikal maupun fundamental menandai adanya campuran sinyal yang tidak konsisten untuk arah pendek.

Cuaca dingin akan meningkatkan permintaan minyak dan memberi dukungan sementara bagi harga Brent, meskipun hambatan struktural tetap ada. Pasar juga menyoroti potensi gangguan produksi yang bisa menambah volatilitas jangka pendek. Dalam konteks itu, trader perlu memperhatikan rilis data permintaan global dan respons pasar terhadap pembaruan kebijakan energi.

Lembaga energi seperti IEA, EIA, dan OPEC diperkirakan akan mempresentasikan prakiraan baru, dengan permintaan global kemungkinan direvisi naik karena cuaca dingin, sementara produksi diperkirakan turun karena pemadaman yang terjadi di beberapa wilayah. Revisi ini menambah dinamika antara dukungan jangka pendek dan tekanan dari kelebihan pasokan pada output OPEC+.

Secara fundamental, kelebihan pasokan tetap menjadi faktor dominan yang dapat menekan harga Brent sepanjang tahun. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight, bagian analisis pasar energi dari Cetro. Faktor produksi OPEC+ yang meningkat secara bertahap juga menjadi risiko downside bagi pasar minyak.

Pemadaman produksi sifatnya sementara, dan OPEC+ kemungkinan akan meningkatkan produksi lebih lanjut mulai April jika permintaan tetap stabil atau meningkat. Ketidakpastian geopolitik tetap menjadi pendorong volatilitas yang perlu diwaspadai oleh pelaku pasar. Timing dan skenario kebijakan menjadi kunci strategi yang tepat untuk fase pasar berikutnya.

Dengan kondisi tersebut, rekomendasi strategi harus fokus pada keseimbangan antara peluang jangka pendek dan risiko jangka panjang. Pelaku pasar disarankan memantau perkembangan Iran–AS, laporan IEA/EIA/OPEC, serta indikator teknikal untuk mengelola risiko dan menjaga rasio risk-reward yang layak.

broker terbaik indonesia