Pasokan minyak mentah di pasaran global sedang dibayangi kekhawatiran gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pelaku pasar mencermati dinamika militer serta langkah diplomatik yang sedang berlangsung dan bisa mempengaruhi aliran minyak ke jalur utama. Berbagai pernyataan dari pihak terkait meningkatkan volatilitas harga minyak dan mendorong respons cepat dari trader.
Harga WTI berada di sekitar 66.80 dolar per barel dalam perdagangan Asia, mendekati level tertinggi enam bulan. Pergerakan ini sebagian didorong ekspektasi bahwa ancaman gangguan pasokan bisa mengurangi pasokan global sedikit lebih cepat daripada permintaan. Para pelaku pasar juga menilai bagaimana eskalasi militer di wilayah tersebut bisa mengubah tingkat leverase bagi produsen dan konsumen.
Di balik dinamika ini, potensi adanya kesepakatan diplomatik antara pihak terkait tetap menjadi faktor penentu arah harga. Komentar dari pemerintahan AS dan penilaian kemungkinannya memengaruhi sentimen pasar secara langsung. Investor menimbang risiko risiko geopolitik sambil menunggu petunjuk dari data persediaan dan perkembangan negosiasi selanjutnya.
Laporan Energy Information Administration menunjukkan proyeksi bahwa persediaan minyak global akan meningkat rata-rata sekitar 3.1 juta barel per hari pada 2026, melampaui pertumbuhan pada 2025. Proyeksi ini didorong ekspansi produksi yang diperkirakan melampaui laju konsumsi secara bertahap. Hal tersebut berpotensi memberikan tekanan ke arah sisi negatif harga dalam jangka menengah.
Meski ada kekhawatiran gangguan pasokan, kenaikan persediaan bisa menahan momentum kenaikan harga WTI. Pasar juga menimbang bahwa volatilitas tetap tinggi akibat dinamika perdagangan dan kebijakan ekonomi yang berubah-ubah. Analis menyoroti peran data persediaan mingguan serta permintaan dari pasar Asia dalam membentuk arah harga.
Para manajer dana dan pedagang berupaya menilai apakah proyeksi EIA akan bertahan, mengingat adanya retorika perdagangan dan kemungkinan kebijakan tarif baru. Kebijakan semacam itu bisa memengaruhi aliran minyak secara global dan membatasi keuntungan bagi produsen tertentu. Skenario ini membuat para pelaku pasar menjaga posisi hati-hati sambil menimbang risiko-risiko inovatif yang mungkin muncul.
Negosiasi antara Washington dan Tehran yang akan dilanjutkan di Jenewa menambah dimensi risiko bagi pasar minyak. Pasar berupaya menilai apakah jalur diplomatik akan menghindari eskalasi lebih lanjut dan menjaga stabilitas pasokan. Di sisi lain, pernyataan pejabat tinggi AS menegaskan keinginan pada kesepakatan, meskipun tetap waspada terhadap konsekuensi jika negosiasi gagal.
Walau ada upaya meredam ketegangan, berita mengenai kemungkinan penerapan tarif nasional baru menambah ketidakpastian perdagangan energi. Kebijakan Section 232 dan langkah tarif lain berpotensi mengubah pola aliran minyak secara global. Investor mempertimbangkan bagaimana risiko kebijakan dapat mempengaruhi harga dan arus pasokan dalam beberapa kuartal ke depan.
Dengan semua faktor tersebut, arah perdagangan minyak cenderung diputus oleh data persediaan mingguan dan respons kebijakan ekonomi. Para pedagang disarankan memantau rilis data inventaris, laporan produksi, serta perkembangan negosiasi secara berkala. Secara teknikal, level resistance di sekitar 67 hingga 68 dolar per barel dianggap menjadi batas atas yang perlu diwaspadai.