WTI Menguat 2% di Awal Minggu karena Ketegangan Timur Tengah Meredam Pasokan dan Dukungan Permintaan

trading sekarang

Harga minyak WTI menguat sekitar 2% pada awal pekan, bergerak mendekati wilayah USD64,60 per barel. Pergerakan ini mencerminkan pasar yang berhati-hati meski ada dorongan positif dari beberapa sisi. Investor mencermati keseimbangan antara faktor penawaran dan permintaan yang tampak saling menopang namun belum mendorong lonjakan signifikan.

Prospek permintaan minyak global sebagian didorong oleh ekspektasi pemotongan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika. Downgrade suku bunga dianggap sebagai langkah ekspansi fiskal tidak langsung yang dapat meningkatkan aktivitas ekonomi dan konsumsi energi. Dengan status Amerika sebagai konsumen minyak terbesar, setiap langkah kebijakan moneter yang lebih longgar cenderung menambah daya beli di sektor energi.

Meski ada sentimen positif, pasar tetap mencerminkan volatilitas karena belum ada katalis kuat yang mendorong harga menembus level tertinggi baru. Keterbatasan transisi pasokan global dan dinamika permintaan membuat pergerakan WTI berada pada jalur defensif. Secara keseluruhan, pasar menilai keseimbangan risiko antara prospek permintaan yang lebih baik dan hambatan pasokan sebagai pendorong utama pergerakan harga.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah melemah, memberi dukungan pada sentimen pasar minyak. Upaya meredakan konflik berpotensi menjaga aliran minyak melalui selat Hormuz tetap relatif stabil. Kondisi ini membantu pasar menahan tekanan dari peningkatan supply yang bisa memicu koreksi harga.

Pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir Tehran telah menurunkan risiko gangguan pasokan secara signifikan. Ketegangan yang berkurang mengurangi probabilitas gangguan besar pada rute perdagangan energi global. Investor menilai faktor geopolitik sebagai risiko turun yang mendukung posisi WTI dalam kisaran saat ini.

Di sisi lain, sanksi yang membatasi sektor energi Iran terus membatasi laju ekspor mereka. Meskipun demikian, dampak penuh dari sanksi masih terbatas karena produksi Iran sedang berusaha pulih secara bertahap. Kondisi tersebut membantu menjaga WTI terjaga di sekitar level saat ini meskipun dinamika permintaan global tetap menjadi penentu utama arah pasar.

Tinjauan Teknis, Risiko, dan Outlook

Secara teknis, pergerakan harga menunjukkan minyak belum menembus level tertinggi mendekati USD66,25 per barel pada Januari lalu. Pergerakan itu mencerminkan keseimbangan antara faktor pendukung dan koreksi teknikal yang membentuk rentang perdagangan. Meski ada retracement, WTI tetap berada di wilayah yang menandai minat beli yang relatif stabil.

Rantai pasokan global dan dinamika permintaan tetap menjadi penentu utama arah harga minyak. Perhatikan bahwa harapan pemotongan suku bunga AS bisa menyokong permintaan, sementara risiko geopolitik yang masih ada dapat membatasi penurunan tajam. Dalam konteks tersebut, investor cenderung menilai risiko-imbangan antara peluang kenaikan dan potensi koreksi sebagai faktor utama.

Outlook menengah menunjukkan volatilitas tetap ada meski data ekonom diharapkan memberi sinyal lebih jelas. Pelaku pasar disarankan untuk memantau pernyataan kebijakan moneter AS, arah eskalasi geopolitik, serta pembaruan data inventori minyak mentah global. Cetro Trading Insight akan terus memantau dinamika ini untuk menyajikan panduan yang relevan bagi pembaca.

broker terbaik indonesia