WTI Stabil di Sekitar 62,80 USD per Barel Didukung Proyeksi Surplus Minyak Dunia 2026 Menurut IEA

Signal /WTISELL
Open62.800
TP58.000
SL64.500
trading sekarang

WTI bergerak datar sekitar 62,80 dolar per barel pada sesi Asia Jumat, setelah turun lebih dari 3% di sesi sebelumnya. Pergerakan tersebut mencerminkan tekanan harga yang berlanjut akibat kekhawatiran atas kelebihan pasokan global. Investor tetap waspada terhadap dinamika stok minyak yang belum menunjukkan pemulihan signifikan.

IEA dalam laporan bulanan memangkas proyeksi permintaan minyak global untuk 2026 dan memperkirakan surplus sekitar 3,7 juta bpd. Angka tersebut bisa menjadi glut tahunan terbesar dalam sejarah. Selain itu, inventori global meningkat pada 2025 dengan laju tercepat sejak gelombang pandemi 2020.

Meski ketegangan geopolitik cenderung menurun, dinamika ekspor-impor dan permintaan domestik tetap menjadi faktor utama. Keterangan bahwa negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran bisa berlanjut hingga satu bulan membuat risiko gangguan pasokan jangka pendek berkurang. Hal ini memberi ruang bagi tekanan harga yang berlanjut jika surplus tetap besar.

Upaya diplomatik AS-Iran meningkatkan peluang penurunan risiko gangguan pasokan minyak. Presiden AS menyatakan bahwa negosiasi bisa berlanjut hingga sebulan, sehingga tindakan militer yang berpotensi mengganggu rantai pasokan menjadi lebih kecil kemungkinannya. Pasokan minyak terkait dengan Iran tetap menjadi risiko yang sedang dipantau pasar.

Data industri dan perhitungan Reuters menunjukkan bahwa ekspor produk minyak Rusia melalui laut meningkat 0,7% pada Januari dibandingkan Desember, mencapai 9,12 juta metrik ton. Peningkatan ini didorong oleh produksi bahan bakar yang kuat dan permintaan domestik yang relatif lemah musiman. Kenaikan ekspor menambah aliran pasokan ke pasar global yang sudah penuh.

Venezuela dilaporkan menyiapkan alokasi lahan produksi tambahan bagi Chevron dan Repsol Spanyol. Pejabat Caracas bisa memberikan blok eksplorasi dan produksi baru dalam minggu-minggu mendatang. Langkah ini berpotensi meningkatkan pasokan minyak mentah ke pasar dan memperburuk keseimbangan pasokan global jika berjalan lancar.

Rilis data pasar menunjukkan WTI tidak banyak bergerak meskipun mengalami penurunan sebelumnya. Pergerakan datar di sekitar level harga mengindikasikan adanya dinamika antara dukungan teknikal dan faktor fundamental. Investor mencoba menafsirkan sinyal dari laporan IEA terkait pasokan dan permintaan global yang melunak.

Faktor utama yang membentuk arah harga adalah surplus pasokan global yang diperkirakan besar pada 2026 serta rebalancing stok. Permintaan minyak global terlihat melemah karena proyeksi IEA yang lebih rendah, sehingga tekanan harga bisa berlanjut jika produksi tidak berkurang. Strategi trading mengharuskan kehati-hatian terhadap volatilitas di pasar energi.

Jika tren pasokan tetap tinggi dan permintaan tidak segera pulih, level harga WTI bisa turun menuju area 58 dolar per barel atau lebih rendah. Dalam skenario sebaliknya, jika ada perlambatan produksi atau gangguan pasokan kecil, target harga bisa lebih tinggi. Namun, untuk posisi saat ini, sinyal yang dianalisis adalah jual dengan risk-reward minimal 1:1,5.

broker terbaik indonesia