Harga minyak mentah WTI sempat turun sekitar 57,50 dolar per barel pada Selasa, menandai tren pelemahan yang dibentuk oleh keraguan awal pekan. Investor menilai bagaimana langkah politik di Venezuela bisa mengganggu pasokan global. Intervensi AS terhadap industri minyak Venezuela serta penangkapan Presiden Nicolas Maduro menyoroti risiko geopolitik.
Meski ketegangan meningkat, dampak langsung terhadap harga tampak terbatas karena para pelaku pasar menilai bahwa pemulihan produksi memerlukan waktu dan investasi besar. Kondisi ini menciptakan kebiasaan berhati-hati yang menjaga volatilitas tetap relatif rendah. Analisis pasar menekankan bahwa pasar tetap berfokus pada faktor fundamental pasokan dan permintaan sebagai pendorong utama.
Menurut Priyanka Sachdeva, Analis Pasar Senior di Phillip Nova, respons harga terhadap peristiwa geopolitik besar menunjukkan bahwa fundamental pasokan dan permintaan tetap menjadi penggerak utama. Reaksi pasar yang relatif tenang terhadap intervensi AS di Venezuela atau gangguan pada infrastruktur energi Rusia menegaskan keandalan faktor fundamental. Dalam konteks ini, para trader menilai bahwa pemulihan pasokan Venezuela akan lambat dan memerlukan investasi substansial.
Pasar menantikan laporan inventaris API Minyak Mentah yang dijadwalkan dirilis pada hari ini. Data tersebut diharapkan memberikan gambaran terbaru tentang tingkat persediaan dan laju produksi minyak mentah di Amerika Serikat. Hasilnya akan menjadi tolok ukur utama bagi investor untuk menilai apakah pasokan mengalami kenaikan atau penurunan yang bisa mempengaruhi arah harga.
Harga WTI berada di sekitar 57,50 tetapi tetap di bawah tekanan karena ketidakpastian soal aliran minyak Venezuela pasca intervensi AS. Momentum pasar menunjukkan kehati-hatian dalam menilai perubahan pasokan di masa mendatang. Meski ada potensi lonjakan pasokan jika normalisasi tercapai, pasar menilai perubahan tersebut bisa memakan waktu lama.
Kendati demikian, angka persediaan aktual dari API bisa menambah volatilitas jangka pendek. Para pelaku pasar juga menilai bahwa data tersebut dapat mengubah ekspektasi tentang arah harga dalam beberapa sesi perdagangan. Secara umum, laporan API dianggap sebagai faktor kunci yang dapat menggeser sentimen pasar dalam jangka menengah.
Dalam skenario optimis bagi pasokan, jika Venezuela meningkatkan produksi secara bertahap, harga WTI bisa turun lebih lanjut. Namun perubahan besar dalam arus minyak global tidak terjadi dalam semalam, sehingga dampaknya biasanya bersifat bertahap. Investor perlu memantau adanya pergeseran kebijakan atau kemajuan diplomatik yang dapat menambah tekanan turun bagi harga.
Sebaliknya jika ketegangan geopolitik meningkat atau gangguan pasokan melonjak, harga bisa menguat dalam jangka pendek. Faktor-faktor seperti respons kebijakan AS dan dinamika permintaan global juga memainkan peran penting. Para analis menilai bahwa fundamental pasokan dan permintaan akan tetap menjadi kunci penentu arah harga.
Investors juga mempertimbangkan kebijakan energi global dan permintaan dari negara konsumen, yang dapat mengubah dinamika pasar secara signifikan. Perhitungan risiko mencakup volatilitas yang lebih tinggi jika data inventaris API menunjukkan perubahan mendasar. Kesimpulannya, pasar cenderung mengutamakan data fundamental sebagai indikator utama arah harga ke depan.