
Harga WTI turun menuju sekitar $92 per barel pada perdagangan Jumat, menyusul penurunan sekitar 2,8% hari ini. Analis menilai bahwa premi risiko geopolitik di Timur Tengah relatif menipis meski ada ketegangan baru. Pasar menunjukkan respons yang moderat karena likuiditas yang tipis dan dinamika perdagangan yang sensitif terhadap berita terkini.
Sentimen pasar sebagian besar membaik meski ada laporan baru mengenai dinamika regional. Investor fokus pada kemungkinan kelanjutan gencatan dan potensi langkah-langkah pembalasan militer yang lebih lanjut. Pergerakan harga minyak sangat responsif terhadap setiap berita dari Washington.
Dalam konteks permintaan energi global, pelaku pasar juga mencermati perubahan permintaan AS dan dampaknya terhadap harga minyak. Katalis teknikal menambah tekanan pada penurunan harga meski risiko geopolitik tetap menjadi faktor penentu jangka menengah. Para analis menilai bahwa data ekonomi AS bisa menggeser arah aliran pasar jika situasi di Hormuz berubah secara signifikan.
Ketegangan tetap tinggi meskipun ada optimisme setelah komentar dari Presiden AS. Trump menyatakan serangan terakhir di sekitar Selat Hormuz tidak menandai dimulainya kembali perang. Ia menegaskan bahwa gencatan tetap berlaku dan langkah lebih lanjut bisa diambil jika Iran menolak persyaratan kesepakatan.
Beberapa pihak menuduh bahwa AS melanggar gencatan dengan serangan terhadap kapal komersial dan wilayah sipil. Iran membantah klaim tersebut dan menekankan bahwa respons mereka relevan terhadap ancaman yang dinyatakan Washington. Sementara itu, Komando Pusat AS menegaskan telah menanggapi serangan terhadap beberapa kapal perang yang melintas di wilayah tersebut.
Pergerakan di pasar minyak tetap sangat volatil, dengan Rabobank menyoroti bagaimana harga bereaksi terhadap berita terbaru. Bank tersebut menyatakan bahwa penurunan Brent dari level tertinggi mendekati $115 terlihat terlalu dini mengingat risiko di Hormuz. Investor terus memantau kemajuan diplomatik terkait proposal AS untuk membuka kembali Jalur Hormuz dan kemungkinan berakhirnya konflik.
Para trader memantau laporan pekerjaan AS Mei, khususnya Nonfarm Payrolls, untuk mendapatkan gambaran baru mengenai kebijakan Federal Reserve. Data tersebut dijadwalkan dirilis sekitar 12:30 GMT. Hasilnya bisa memicu penyesuaian ekspektasi mengenai jalur kebijakan dan tingkat suku bunga di masa depan.
Konten payroll nonfarm biasanya memengaruhi permintaan energi global, termasuk konsumsi minyak, yang pada akhirnya membentuk pergerakan harga. Jika data menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja yang kuat, prospek permintaan energi bisa menambah dukungan harga minyak. Sementara jika data menunjukkan pelemahan, tekanan turun bisa berlanjut.
Secara keseluruhan, data AS yang lebih kuat atau lebih lemah berpotensi memicu perubahan besar pada rencana kebijakan moneter. Kondisi geopolitik yang sedang berlangsung juga menambah risiko volatilitas di pasar komoditas. Dengan demikian, risk-reward tetap relevan bagi trader yang mengikuti rencana pembalikan posisi.