Harga WTI turun mendekati 65.70 dolar AS pada pembukaan perdagangan Eropa hari Senin. Penurunan ini terjadi di tengah volatilitas pasar energi dan respons terhadap perkembangan geopolitik. Menurut liputan dari Cetro Trading Insight, investor juga menyiapkan diri untuk data volatilitas yang lebih luas di pasar minyak.
Harga minyak dibayangi optimis atas kelanjutan negosiasi AS-Iran yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini. Kabar bahwa negosiasi di Geneva akan berlanjut memberi dukungan terhadap pasar minyak. Pembicaraan tersebut meningkatkan peluang solusi diplomatik yang bisa menstabilkan pasokan.
Investors menantikan laporan API yang akan dirilis Selasa untuk memberi isyarat arah permintaan, persediaan, dan dinamika impor. Berita tersebut sering memicu penyesuaian posisi sebelum rilis resmi. Pasar menimbang sinyal-sinyal dari laporan tersebut sambil terus memperhatikan berita Iran dan perubahan kebijakan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan adanya peluang diplomasi yang menguntungkan bagi kedua pihak. Ia menekankan adanya kemungkinan solusi yang saling menguntungkan dan dapat dicapai. Komentar ini menambah nuansa positif bagi pasar meskipun ketegangan masih ada.
Namun, eskalasi dalam hubungan AS-Iran bisa mengganggu aliran pasokan minyak global. Jika konflik memanas, suplai minyak dari wilayah produksi utama bisa terganggu. Hal itu cenderung menguatkan harga minyak secara mendasar, sehingga investor tetap waspada terhadap volatilitas.
Sementara itu Trump memperlihatkan bahwa tarif baru bisa meningkatkan tekanan pada permintaan minyak. Kebijakan perdagangan yang lebih proteksionis dapat menekan pertumbuhan permintaan global. Dipadukan dengan faktor geopolitik, prospek minyak menjadi lebih tidak pasti.
Langkah Trump untuk menaikkan tarif impor dari 10 persen menjadi 15 persen menambah ketidakpastian bagi perdagangan global. Analisis pasar minyak menunjukkan bahwa kebijakan fiskal bisa menekan permintaan jika ekonomi melambat. Investor mengawasi bagaimana reaksi negara mitra terhadap volatilitas tarif.
Putusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan kebijakan tarif melanggar hukum memicu gelombang ketidakpastian baru. Namun, presiden AS tetap memberlakukan tarif baru secara langsung pada hari Sabtu, menambah kebingungan kebijakan perdagangan. Kebijakan yang berubah-ubah ini menjaga volatilitas pasar energi.
Secara keseluruhan, arah harga minyak masih tidak pasti selama faktor geopolitik dan kebijakan perdagangan saling mempengaruhi. Pasar minyak perlu memantau perkembangan negosiasi, rilis data API, dan kebijakan perdagangan AS. Investor disarankan untuk menilai risiko dan menjaga rencana manajemen risiko.