
Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight. Derek Halpenny dari MUFG menyoroti meningkatnya risiko downside bagi yen Jepang akibat naiknya imbal hasil AS dan meningkatnya probabilitas langkah kenaikan Fed yang menguatkan dolar. Kondisi ini menempatkan USDJPY di posisi yang lebih sensitif terhadap perubahan kebijakan dan dinamika yield global.
Menurut Halpenny, intervensi Jepang sebelumnya mengandalkan penurunan imbal hasil AS; namun kali ini imbal hasil cenderung naik, sehingga konteks eksternal lebih menantang bagi yen. Faktor-faktor seperti persepsi inflasi, ukuran respons Fed, dan volatilitas pasar energi menambah tekanan pada ekonomi Jepang. Pasar menilai bahwa sinyal kebijakan akan tetap kompleks hingga data berikutnya.
Dalam kerangka ini, para analis memperkirakan tekanan untuk intervensi lebih lanjut dan kecenderungan BoJ yang lebih hawkish, meski peluang yen menguat signifikan tetap rendah. Perkembangan eksternal menjadi penentu utama arah USDJPY dalam tempo dekat, dengan risiko terjaga jika kondisi yield tidak mereda.
Sejak awal pekan lalu, imbal hasil 10-tahun AS naik sekitar 30 basis poin karena investor menilai ulang risiko inflasi dan respons potensial Fed. Dalam konteks itu, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 bp pada akhir tahun menjadi sekitar 80 persen.
Dolar AS merespons dengan kuat, dengan indeks DXY menguat sekitar 1,5 persen—gerak terbesar sejak fase awal konflik Iran-AS. Ini menunjukkan bahwa yield yang lebih tinggi memberi dukungan terhadap dolar dan menambah tekanan pada mata uang lain, termasuk yen.
Intervensi sebelumnya di 2022 dan Juli 2024 memperlihatkan pola bahwa intervensi tidak selalu berhasil; pada beberapa periode yield AS berangsur turun setelah intervensi dan USD/JPY jatuh tajam. Dalam konteks ini, latar belakang eksternal lebih menantang karena yield AS cenderung naik dan pasar menghitung opsi intervensi lebih lanjut setiap hari.
BoJ tampak berada di bawah tekanan eksternal untuk menaikkan suku bunga, dan banyak analis mengharapkan nada kebijakan yang lebih hawkish dari Gubernur Ueda menjelang rapat BoJ 16 Juni. Komentar yang menyoroti percepatan perusahaan dalam meneruskan biaya ke pelanggan juga memperkuat ekspektasi kenaikan di bulan mendatang.
Meskipun harga pasar telah mencerminkan probabilitas kenaikan sekitar 80 persen pada Juni, kemungkinan langkah kebijakan yang lebih hawkish pada saat ini belum cukup untuk mengangkat yen secara signifikan. Pasar mencari sinyal lebih lanjut yang akan mengubah dinamika pasangan USDJPY dan mempengaruhi arah jangka menengah.
Faktor eksternal seperti dinamika di Timur Tengah, pergerakan pasar energi, dan naiknya yield AS tetap menjadi kunci utama; intervensi tambahan kemungkinan diperlukan meskipun BoJ mengubah nada menjadi lebih hawkish. Oleh sebab itu, pelaku pasar perlu menjaga strategi manajemen risiko sambil menakar potensi rebound yen jika sentimen berubah.