Rilis CPI Australia untuk Januari menunjukkan inflasi YoY sebesar 3.8%, melampaui ekspektasi pasar. Angka ini menambah tekanan bagi kebijakan moneter dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga RBA. Investor menilai risiko kenaikan biaya pinjaman dapat mendukung AUD terhadap USD.
Inflasi inti Trimmed Mean CPI juga meningkat, karena CPI inti naik 0.3% MoM dan 3.4% YoY. Data ini menandakan dinamika harga yang tetap panas meski ada beberapa pelonggaran pada komponen lain. Dampaknya adalah dorongan bagi AUD untuk mempertahankan momentum kenaikan.
Gubernur RBA Michele Bullock menyatakan bahwa perekonomian masih relatif kuat tetapi proses kebijakan menuntut kehati-hatian dan evaluasi berkelanjutan. Pasar mata uang menilai langkah-langkah lanjutan terkait suku bunga bisa terjadi tahun ini. Menurut Cetro Trading Insight, AUD/USD diperdagangkan sekitar 0.7120, mendekati tertinggi dua pekan di 0.7147.
USD kehilangan tenaga karena sentimen terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan AS yang masih abu-abu. Pasar menyoroti kurangnya sinyal tegas terkait tarif dan langkah stimulus. Dalam konteks ini, investor mencari perlindungan pada aset berisiko lebih tinggi sambil menimbang implikasi fiskal.
Presiden Trump menaikkan tarif Section 122 menjadi 10%, meskipun sebelumnya muncul kemungkinan kenaikan hingga 15%. Keputusan ini menambah ketidakpastian perdagangan dan memberi tekanan pada dolar ketika para pelaku pasar menilai resolusi isu-isu kebijakan mereka. Sisi lain, ada kekhawatiran mengenai jalan fiskal yang berlanjut.
Kondisi ini memperkuat daya tarik AUD sebagai aset mata uang utama, terutama jika data inflasi Australia terus mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga RBA. AUD/USD berpotensi melanjutkan tren naik menuju level resisten sekitar 0.7147–0.7150.