Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight berdasarkan pandangan National Bank of Canada NBC para analis Taylor Schleich, Ethan Currie, dan Warren Lovely. Mereka memprediksi Federal Reserve AS akan melanjutkan pemotongan suku bunga pada Maret dan Juni 2026. Meski pertumbuhan lebih kuat dan inflasi tetap tinggi, tenaga kerja tetap menjadi kunci dinamika kebijakan moneter. Laporan ini menempatkan NBC sebagai kaca mata utama bagi investor global yang mengikuti jalur kebijakan bank sentral AS.
Para analis menilai bahwa ada jendela pelonggaran singkat sebelum pertumbuhan PDB kembali menguat, perekrutan meningkat, dan tekanan inflasi kembali muncul. Mereka menekankan bahwa pemotongan ini tidak akan panjang karena faktor tekanan tenaga kerja dan inflasi yang cenderung kuat secara bertahap. Kendati pasar imbal hasil jangka panjang berada pada kisaran sempit, risiko perubahan arah kebijakan tetap hadir.
Dalam konteks pasar yang lebih luas, NBC juga menyatakan bahwa pembaruan harga di pasar OIS telah mengubah peluang pemotongan jangka pendek, meski FOMC menjalankan sikap sabar pada awal tahun. Mereka mempertahankan proyeksi pemotongan pada Maret dan Juni meski kemungkinan tertunda jika data tenaga kerja tidak melemah dengan segera. Secara keseluruhan kebijakan pelonggaran diperkirakan akan menjadi jendela sempit dan materi kebijakan jangka panjang belum menunjukkan penurunan imbal hasil yang signifikan.
Walau pemangkasan dimaksudkan untuk meredam tekanan ekonomi, imbal hasil obligasi jangka panjang diperkirakan tetap berada dalam kisaran terbatas sepanjang 2026. Kondisi ini menandakan pasar telah menyesuaikan ekspektasi terhadap jalur kebijakan tanpa mengubah dinamika utama yield curve. Investor akan menilai bagaimana lonjakan data tenaga kerja mempengaruhi kejujuran proyeksi FED.
OIS di pasar berjangka telah menyesuaikan peluang pemotongan jangka pendek, sementara FOMC tetap menunjukkan sikap sabar pada awal tahun. Jika data payroll melemah tidak segera, langkah pemotongan bisa tertunda dan memberi dampak pada likuiditas serta biaya pembiayaan. Dalam kerangka ini, risiko volatilitas imbal hasil masih relevan, terutama pada tenor menengah hingga panjang.
Para trader dan investor disarankan memahami bahwa jalur kebijakan akan sangat responsif terhadap data tenaga kerja dan inflasi yang tercatat. Jendela pelonggaran yang sempit menambah ketidakpastian dalam menilai timing pergerakan imbal hasil dan arus modal. Dalam konteks ini, risiko volatilitas imbal hasil jangka panjang tetap relevan bagi perencanaan portofolio.
Tenaga kerja tetap menjadi salah satu faktor utama yang bisa mengubah kecepatan pemangkasan. Jika data nonfarm payroll melemah lebih awal, prospek pemotongan menjadi lebih jelas dan jalur kebijakan bisa melaju lebih cepat. Namun sebaliknya jika tenaga kerja tetap kuat, bank sentral bisa menjaga kehati-hatian dan memperlambat pelonggaran.
Pertumbuhan PDB yang lebih kuat disertai perekrutan kembali dan tekanan inflasi menambah tantangan bagi kebijakan moneter. Kombinasi ini cenderung menjaga imbal hasil tetap berfluktuasi meskipun ekspektasi pemangkasan ada. Para pelaku pasar perlu memantau laporan tenaga kerja dan inflasi secara berkelanjutan untuk menilai arah kebijakan di kuartal mendatang.
Secara keseluruhan jalur kebijakan sangat tergantung pada dinamika tenaga kerja dan laju inflasi. Pelaku pasar perlu tetap adaptif terhadap data baru dan risiko kebijakan bank sentral negara maju. Dalam konteks ini, pergerakan imbal hasil jangka panjang diperkirakan akan terus dipengaruhi faktor fundamental global.