BI Pertahankan Suku Bunga 4,75%: Imbas bagi Saham Perbankan dan IHSG

BI Pertahankan Suku Bunga 4,75%: Imbas bagi Saham Perbankan dan IHSG

trading sekarang

Keputusan BI mempertahankan BI Rate di 4,75 persen pada RDG 18–19 Februari 2026 menjadi sorotan utama malam ini, sebuah langkah yang bisa mengubah arah rupiah, likuiditas bank, dan peluang investasi. Cetro Trading Insight membahas implikasi kebijakan ini secara rinci agar pembaca awam tetap bisa memahami inti kebijakan dengan jelas. Kebijakan ini juga dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas di tengah gejolak pasar keuangan global yang masih berlanjut. Secara garis besar, langkah ini menandai komitmen otoritas moneter untuk menjaga inflasi 2026 tetap terkendali sambil mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Penurunan BI Rate sebelumnya telah mencapai total 150 basis poin sejak 2024 hingga 2025, membawa BI Rate ke level terendah sejak 2022. Namun pada RDG terbaru, otoritas moneter memilih menahan tingkat bunga untuk saat ini, menunjukkan kehati-hatian terhadap dinamika pasar keuangan global yang cenderung volatil. Langkah ini juga mencerminkan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian eksternal yang dapat mempengaruhi arus modal dan biaya pendanaan domestik.

Selain itu, BI mempertahankan Deposit Facility di 3,75 persen dan Lending Facility di 5,50 persen. Kebijakan tersebut dirancang untuk menjaga likuiditas perbankan sambil memberi ruang bagi bank untuk menyeimbangkan biaya pendanaan dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. Dengan kombinasi ini, bank nasional diarahkan untuk tetap menjaga likuiditas yang memadai sambil menimbang risiko kredit dalam lingkungan suku bunga yang relatif stabil.

Sejalan dengan keputusan kebijakan, pasar saham perbankan merespons dengan pelemahan. Saham BBCA turun sekitar 1,37 persen ke level Rp 7.175 per saham, disusul BBRI yang turun 1,04 persen menjadi Rp 3.790. BMRI juga menembus ke zona merosot sebesar 3,32 persen ke Rp 5.100, sedangkan BBNI melemah tipis 0,22 persen ke Rp 4.480. Pergerakan tersebut menunjukkan respons investor yang cenderung berhati-hati terhadap dinamika kebijakan moneter serta prospek pendanaan bank di masa mendatang.

Indeks sektoral IDXFINANCE merosot sekitar 1,33 persen, sejalan IHSG yang turun 0,48 persen ke level 8.270 pada pukul 14.50 WIB. Pelemahan sektor keuangan mempengaruhi sentimen pasar secara luas, meskipun beberapa investor melihat potensi rebound jika kondisi makro membaik seiring keluarnya laporan keuangan bank besar. Pasar tetap memperhatikan risiko eksternal seperti volatilitas global dan perubahan kebijakan bank sentral lain yang bisa mempengaruhi likuiditas global.

Para pelaku pasar menilai bahwa keputusan BI menahan suku bunga bisa menambah volatilitas jangka pendek, meskipun dukungan terhadap stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas. Faktor eksternal seperti dinamika pasar global serta perubahan kebijakan bank sentral lain turut membentuk arah pasar dalam beberapa minggu mendatang. Analisis teknikal juga menunjukkan bahwa pergerakan saham perbankan dapat berfluktuasi secara jangka pendek hingga menunggu kepastian kebijakan berikutnya.

Apa Arti untuk Investor dan Langkah Selanjutnya

Bagi investor, fokus utama adalah bagaimana bank besar menyeimbangkan likuiditas, kualitas aset, dan potensi kinerja pada 2026. Kebijakan moneter yang tidak agresif bisa memperlambat penurunan biaya pendanaan bagi bank, tetapi tetap memengaruhi suku bunga kredit dan daya tarik saham perbankan. Investor perlu mempertimbangkan eksposur sektor keuangan secara menyeluruh, tidak hanya mengandalkan satu laporan kebijakan saja.

Disarankan untuk melakukan analisa fundamental yang lebih luas, memantau kinerja laba bank, serta memerhatikan risiko likuiditas dan volatilitas pasar. Diversifikasi portofolio dan penentuan batas risiko pribadi menjadi kunci untuk menghadapi skenario pasar yang berubah cepat. Selain itu, konsensus pasar menyarankan evaluasi ulang target harga saham bank utama secara berkala dan menyiapkan rencana manajemen risiko yang fleksibel.

Disclaimer masih relevan: keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya berada di tangan investor, dengan pemahaman terhadap risiko dan tujuan investasi masing-masing. Cetro Trading Insight akan terus menyajikan analisis yang mudah dipahami untuk membantu pembaca membuat keputusan yang lebih informasi.

broker terbaik indonesia