Pertumbuhan uang primer M0 di Januari 2026 terasa seperti detonator kebijakan yang menggerakkan lintasan perekonomian Indonesia. Dalam laporan resmi, Bank Indonesia menegaskan bahwa laju M0 tetap tinggi, 11,0% secara tahunan, menandakan efektivitas ekspansi likuiditas yang digulirkan. Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca awam memahami bagaimana likuiditas bisa mendorong aktivitas ekonomi tanpa menimbulkan kepanikan.
Dari komponen utama, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan faktor pendorong M0 ialah tetap tingginya giro bank yang beredar di Bank Indonesia dan peningkatan uang kartal sejalan dengan aktivitas ekonomi. Stimulus fiskal dan ekspansi moneter juga disebut memegang peranan penting dalam menjaga dinamika ini. Kombinasi kebijakan tersebut menandakan kerangka kerja likuiditas yang pro-pertumbuhan.
BI melaporkan bahwa M0 Adjusted pada Januari 2026 mencapai Rp2.193 triliun, tumbuh 14,7% secara y/y, melanjutkan momentum bulan sebelumnya. Pertumbuhan ini dipicu oleh giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 30,1% y/y dan uang kartal yang diedarkan sebesar 12,4% y/y, menunjukkan dampak insentif likuiditas yang diterapkan pemerintah.
M2 (uang beredar luas) pada Desember 2025 tumbuh 9,6% y/y, naik dari 8,3% y/y pada November 2025. Angka ini mencerminkan gelombang ekspansi keuangan pemerintah dan peningkatan penyaluran kredit yang mendukung likuiditas di pasar finansial.
Faktor utama yang mendorong M2 adalah ekspansi keuangan pemerintah dan peningkatan penyaluran kredit. Ke depan, sinergi antara kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah dipandang penting untuk menjaga momentum likuiditas tanpa mengorbankan stabilitas fiskal.
Ke depan, diharapkan arus likuiditas ini tetap terkelola melalui koordinasi kebijakan BI dan pemerintah untuk mendukung laju pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kredit yang berkelanjutan.
Implikasi kebijakan terhadap pasar keuangan dan prospek ekonomi terlihat jelas: upaya BI menjaga likuiditas melalui M0 dan M2 berpotensi memperkuat investasi dan aktivitas bisnis. Namun, dinamika ini juga menuntut kehati-hatian agar inflasi tidak kembali melonjak.
Pelaku pasar perlu memantau bagaimana perubahan likuiditas mempengaruhi suku bunga, kredit perbankan, dan harga aset. Kebijakan fiskal yang seiring dengan pelonggaran likuiditas bisa membuka peluang bagi sektor-sektor yang sensitif terhadap likuiditas.
Menurut Cetro Trading Insight, laporan ini tidak memberikan sinyal perdagangan spesifik untuk instrumen tertentu saat ini; dengan demikian sinyal trading disampaikan sebagai no. Data ini lebih relevan untuk konteks analisis makro dan perumusan strategi jangka menengah.