Brent Bangkit Menutup Pekan: Ketegangan AS–Iran dan Dinamika Pasokan Dunia Mengguncang Pasar Minyak

Brent Bangkit Menutup Pekan: Ketegangan AS–Iran dan Dinamika Pasokan Dunia Mengguncang Pasar Minyak

trading sekarang

Harga minyak Brent melesat menjelang penutupan perdagangan, memicu sorotan tajam di pasar energi yang tengah dipenuhi volatil. Aksi short-covering masif dan kekhawatiran atas potensi aksi militer AS terhadap Iran menjadi pendorong utama pergerakan harga. Ketidakpastian geopolitik membuat para trader menimbang risiko gangguan pasokan yang bisa mengguncang pasar global.

Brent ditutup naik 0,14 persen ke USD71,76 per barel, sementara WTI berakhir turun tipis di USD66,39 per barel. Keduanya sempat bergerak melemah sepanjang sesi, menunjukkan adanya ambivalensi di pasar sebelum adanya konfirmasi arah kebijakan atau eskalasi lebih lanjut. Analis menekankan bahwa pergerakan harga tetap sensitif terhadap berita terkait Iran dan komentar pejabat AS.

Kinerja mingguan pun menunjukkan volatilitas yang meningkat, dengan Brent dan WTI melonjak lebih dari 5 persen secara agregat. Banyak pelaku pasar menilai bahwa meskipun risikonya tinggi, pasar minyak masih menimbang seberapa besar dampak nyata dari potensi konflik. Dari sisi teknikal, beberapa faktor fundamental menjaga kisaran harga tetap rapuh namun rentan terhadap kejutan di berita geopolitik.

Di sisi pasokan, sentimen pasar terpengaruh laporan EIA yang menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah AS sebanyak 9 juta barel, didorong oleh meningkatnya utilisasi kilang dan ekspor. Hal ini menambah dukungan bagi harga Brent di tengah ekspektasi pembatasan pasokan di level global. Namun, tanda-tanda bahwa OPEC+ mungkin melanjutkan peningkatan produksi mulai April mengintroduksi risiko tekanan ke bawah pada harga.

Analisa pasar juga menunjukkan bahwa neraca pasokan global cenderung tetap surplus, meski ada pergeseran kecil di beberapa negara produsen kunci. Para analis memperkirakan surplus 2025 berlanjut hingga awal 2026, meskipun ada upaya penyesuaian produksi. Dalam konteks ini, pembahasan mengenai pemangkasan produksi oleh OPEC+ mungkin menjadi kunci untuk menenangkan pasar pada akhirnya.

Keterangan dari JP Morgan menyiratkan bahwa surplus akan bertahan, dengan rekomendasi bahwa pengurangan produksi sekitar 2 juta barel per hari diperlukan untuk menjaga keseimbangan hingga 2027. Penilaian ini menunjukkan bahwa manajemen pasokan global masih diperlukan untuk mencegah kelebihan persediaan yang terlalu besar di masa mendatang. Secara keseluruhan, pasar menghadapi kombinasi sinyal produksi berlebih dan potensi gangguan pasokan akibat gejolak regional.

Implikasi Harga dan Strategi Pasar

Di ranah perdagangan, para trader terlihat mengadopsi pola wait-and-see sambil menilai bagaimana konflik geopolitik akan berkembang. Namun, minat terhadap opsi Brent meningkat, dengan pembelian opsi call oleh banyak pelaku pasar dalam beberapa hari terakhir sebagai ekspresi ekspektasi harga lebih tinggi. Dalam konteks ini, investor disarankan untuk menyelaraskan ekspektasi dengan faktor fundamental dan menjaga kehati-hatian terhadap volatilitas.

Analisis dari Cetro Trading Insight menunjukkan bahwa meskipun nyala optimisme harga cukup kuat, risiko geopolitik dan dinamika pasokan tetap menjadi penentu arah jangka pendek. Pasar dapat merespons dengan cepat terhadap pernyataan politik atau laporan persediaan, sehingga likuiditas tetap tinggi. Strategi manajemen risiko perlu mengacu pada rasio risiko/imbalan minimal 1:1,5 agar melindungi kapital dalam skenario volatilitas tinggi.

Kesimpulan bagi pelaku pasar adalah untuk memantau perkembangan di Selat Hormuz, perubahan kebijakan OPEC+, dan respons kebijakan AS terhadap Iran. Kondisi ini menuntut pendekatan trading berbasis fundamental dengan fokus pada faktor produksi, persediaan, dan permintaan global. Dengan faktor-faktor tersebut, harga minyak bisa bergerak dalam kisaran yang luas, tergantung pada berita yang masuk.

broker terbaik indonesia