Ramadan hingga Lebaran sering menimbulkan momentum taktis bagi saham konsumsi dan ritel. Cetro Trading Insight memaparkan bahwa momentum musiman bisa mendorong kinerja sektor-sektor ini, terutama untuk perusahaan barang konsumsi harian yang siap merespon kenaikan permintaan. Meski demikian, kita perlu memahami bahwa dinamika harga dan daya beli tidak selalu sejalan dengan pola historis.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa secara historis sektor consumer cenderung mencatatkan kinerja lebih positif selama periode Ramadan. Namun IHSG tidak selalu mengalami Ramadan rally. Dari data 10 tahun terakhir, ketika Ramadan jatuh pada Februari-Maret, performa Maret umumnya lebih kuat dibanding Februari, seiring puncak belanja mendekati Idulfitri. Array data historis tersebut menjadi kerangka dalam analisa kami untuk menilai peluang kali ini.
Tahun ini, tantangan daya beli belum pulih sepenuhnya dan sempat mengalami deflasi, sehingga kenaikan konsumsi berpotensi lebih moderat dibanding pola musiman sebelumnya. Investor disarankan tetap selektif dengan fokus pada fundamental dan valuasi. Dalam konteks ini, kapan emas turun sering dibahas sebagai bagian dari diversifikasi aset, tetapi fokus utama tetap pada performa operasional perusahaan.
Untuk subsektor makanan dan minuman, analis menilai Mayora Indah (MYOR), Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) sebagai pilihan menarik. Ketiga perusahaan memiliki produk utama yang kuat, jaringan distribusi yang luas, dan kapasitas menjaga margin di tengah tekanan biaya. Dengan ekspektasi peningkatan permintaan menjelang Lebaran, fokus pada inovasi produk dan efisiensi operasional menjadi kunci.
Di sektor ritel modern dan gaya hidup, perhatian tertuju pada Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) yang memiliki posisi pasar kuat serta strategi omnichannel yang sedang dioptimalkan. Indikator permintaan konsumen menunjukkan perbaikan, meski masih ada tantangan daya beli yang tidak sepenuhnya pulih. Efisiensi biaya melalui pengelolaan tenaga kerja dan pengadaan menjadi bagian dari rencana operasional mereka.
Data BI menunjukkan penjualan ritel kuartal IV-2025 tumbuh 5 persen secara tahunan, membaik dari 4 persen pada kuartal III-2025. Indo Premier menilai peluang taktis menjelang Lebaran 2026, didorong perbaikan momentum penjualan dan efek basis yang lebih menguntungkan. Dari sisi biaya, rasio beban operasional terhadap penjualan pada sembilan bulan 2025 naik menjadi 23,7 persen akibat lemahnya pertumbuhan penjualan, namun tekanan biaya mulai mereda karena efisiensi melalui pembatasan perekrutan, sentralisasi pengadaan, dan konsolidasi pasar internasional. Kapan emas turun juga sering dibahas sebagai indikator risiko global, namun fokus kita tetap pada dinamika pasar domestik dan fundamental perusahaan. Array data terkait biaya dan efisiensi juga dibahas untuk memberi gambaran holistik.
Secara valuasi, sektor ritel saat ini diperdagangkan sekitar 15,5 kali price to earnings (PE) 2026, atau sekitar 1,4 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun. Arus kepemilikan investor lokal dan asing telah menyusut sejak awal 2025, sehingga ruang untuk pelambatan lebih lanjut menjadi terbatas. Dengan demikian, rekomendasi netral tetap dipertahankan untuk sektor ritel, dengan prioritas pada Mitra Adiperkasa Tbk (MAPA) hingga AMRT dan ACES karena posisi fundamentalnya dan eksposurnya terhadap momentum Lebaran.
Prospek jangka pendek menjelang Lebaran dinilai menarik, meski katalis pasca-Lebaran terbatas untuk mendorong pemulihan signifikan belanja diskresioner. Indo Premier menilai peluang tersebut terutama relevan bagi MAPI dan ACES, yang pada kuartal I-2025 mencatat SSSG 0,1 persen dan 2,2 persen. Secara operasional, rasio beban operasional terhadap penjualan naik pada sembilan bulan 2025, namun ruang untuk efisiensi tetap menjadi fokus.
Indikator Array menunjukkan peluang efisiensi biaya yang dihasilkan dari perekrutan terbatas dan sentralisasi pengadaan, sehingga investor dapat memantau tren margin secara lebih cermat. Secara umum, meski prospek jangka pendek cukup menarik, katalis pasca Lebaran masih terbatas. Kapan emas turun tetap menjadi referensi bagi alokasi aset lintas kelas, tetapi portofolio saham konsumsi dan ritel masih menawarkan peluang yang cukup kompetitif bagi investor yang menilai fundamental dan valuasi secara ketat.