BSI mengumumkan bahwa rencana pembagian laba untuk tahun buku mendatang tidak akan dibarengi dengan langkah dividen yang agresif. Mereka menegaskan fokus utama adalah memperkuat modal internal untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan. Ade Cahyo Nugroho, Direktur Finance & Strategy, menjelaskan bahwa pada fase growing ini, dividen payout sering menjadi prioritas kedua dibandingkan dengan kebutuhan equity. Dalam konteks makro, harga emas dunia hari ini mencerminkan volatilitas pasar yang perlu dicermati investor, sementara analisa data keuangan menunjukkan bahwa Array posisi keuangan sedang dioptimalkan menuju pertumbuhan berkelanjutan.
Secara historis, BRIS membayar dividen tunai pada 2024 sebesar Rp1,05 triliun, atau sekitar 15% dari laba bersih. Namun kebijakan 2025 menunjukkan penahanan laba untuk memperkuat ekuitas sebagai pondasi ekspansi. Ade Cahyo menekankan bahwa langkah ini menjaga kapasitas ekspansi, bukan mengabaikan kinerja. Pihak manajemen percaya bahwa modal yang sehat menjadi fondasi untuk pertumbuhan yang berkelanjutan.
Pertumbuhan 2025 dinilai sangat berkualitas dengan laba bersih mencapai Rp7,57 triliun, meningkat 8% secara tahunan. Aset total BRIS mencapai Rp456 triliun (+11,64%), pembiayaan Rp319 triliun (+14,49%), dan rasio NPF gross terjaga di 1,81%. Bisnis emas juga melonjak 78,6% menjadi Rp22,9 triliun, menunjukkan diversifikasi pendapatan yang kuat, sementara Tabungan Haji tumbuh 10,03% sebagai engine efisiensi biaya dana. Harga emas dunia hari ini menjadi konteks bagi dampak kebijakan terhadap risk appetite investor. Array
Anggoro Eko Cahyo, Direktur Utama BSI, menilai pertumbuhan 2025 sangat double-digit dan berkelanjutan. Di tengah pencapaian tersebut, manajemen menegaskan fokus pada efisiensi biaya dan penguatan ekuitas guna memperkuat daya saing. Laba yang solid mendukung proyeksi ekspansi organik serta peningkatan aktivitas pembiayaan yang sejalan dengan target kinerja bank syariah nasional. Cetro Trading Insight menilai kombinasi ini sebagai sinyal positif untuk prospek modal dan strategi jangka menengah.
Menurut keterangan kinerja 2025, total aset tumbuh sekitar 11% sedangkan pembiayaan meningkat lebih dari 14%. Laba bersih 2025 menunjukkan tren yang stabil dan didorong oleh efisiensi operasi serta diversifikasi pendapatan, termasuk segmen emas. Kebijakan dividen yang lebih tertahan memungkinkan BRIS menjaga likuiditas untuk ekspansi lebih lanjut, sambil menampilkan profil risiko yang sehat.
Secara umum, fokus bisnis BRIS pada segmen Tabungan Haji menjadi faktor kunci dalam efisiensi biaya dana, sehingga perusahaan dapat menekan cost of funds. Sinyal kebijakan ini dinilai sejalan dengan arah industri perbankan syariah yang tengah tumbuh. BSI tetap menjadi contoh perusahaan dengan kinerja 2025 solid dan konsisten, didukung oleh ekuitas yang kuat dan kapasitas ekspansi berkelanjutan.