Deretan Saham dengan Pemegang Saham Terbanyak di IDX: Likuiditas Tinggi Jadi Daya Tarik Investor Ritel

Deretan Saham dengan Pemegang Saham Terbanyak di IDX: Likuiditas Tinggi Jadi Daya Tarik Investor Ritel

trading sekarang

Di Bursa Efek Indonesia, deretan saham dengan pemegang saham terbanyak seringkali menjadi indikator utama kekuatan likuiditas dan daya tarik investor dari berbagai kalangan. Emiten seperti ini biasanya berasal dari kelompok kapitalisasi jumbo yang memiliki profil stabil dan likuiditas tinggi. Fenomena ini memperlihatkan kepercayaan pasar terhadap kemampuan perusahaan untuk diperdagangkan tanpa hambatan besar.

Selain ukuran kapitalisasi, saham-saham pilihan ini menonjol karena likuiditas harian yang tinggi dan tingkat free float yang relatif besar. Kondisi seperti itu memudahkan investor untuk masuk maupun keluar posisi tanpa menimbulkan gerak harga besar. Akibatnya, peluang untuk menjual kembali saham dengan cepat menjadi lebih realitis bagi investor ritel maupun institusi.

Untuk investor pemula, likuiditas yang tinggi sering dijadikan fondasi awal berinvestasi atau trading. Dengan likuiditas yang andal, eksekusi pesanan bisa berjalan cepat dan biaya transaksi cenderung lebih rendah. Di Cetro Trading Insight, kami menilai likuiditas sebagai salah satu faktor fundamental penting ketika memilih saham.

Mengutip data terbaru hingga Januari 2026 dari Stockbit Sekuritas, beberapa saham menempati posisi teratas dalam jumlah pemegang saham. Data ini menegaskan tren minat investor yang luas terhadap emiten besar dan perusahaan dengan likuiditas tinggi. Analisis kami fokus pada bagaimana jumlah pemegang saham dapat menjadi sinyal atas tingkat keterbukaan pasar.

Di antara yang paling menonjol, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) muncul sebagai saham favorit investor ritel. Keduanya juga terkait dengan konglomerasi Grup Bakrie, sebuah faktor yang sering dipandang analis sebagai dukungan terhadap reputasi perusahaan. Kedua faktor tersebut mendongkrak minat beli dan mempengaruhi persepsi likuiditas secara dinamis.

Selain itu, daftar sepuluh saham teratas juga mencakup SIDO, INET, BBNI, TLKM, SUPA, PTBA, BRIS, BRPT, UNVR, dan ASII. Jumlah pemegang saham di kelompok ini berkisar sekitar 102.000 hingga 175.000 investor. Rentang ini menunjukkan variasi komunitas pemegang saham yang besar di pasar modal Indonesia.

Bagi investor ritel, memiliki saham dengan banyak pemegang saham dapat mempermudah likuidasi posisi karena banyak pembeli potensial. Kepemilikan publik yang luas juga cenderung menekan risiko keterbatasan penjualan saat pasar bereaksi. Hal ini sejalan dengan prinsip manajemen risiko yang kami tekankan di Cetro Trading Insight.

Kondisi likuiditas tinggi membantu mengeksekusi jual beli dengan lebih efisien dan sering mengurangi slippage pada eksekusi order. Namun, volatilitas harga bisa tetap meningkat ketika jumlah pemegang saham berubah secara signifikan. Oleh karena itu, para investor perlu menggabungkan analisis harga dengan faktor kepemilikan publik.

Sebagai penutup, bagi pembaca Cetro Trading Insight, analisis mengenai kepemilikan publik adalah bagian penting untuk memahami potensi likuiditas dan minat pasar secara menyeluruh. Namun sinyal trading formal tetap membutuhkan analisis harga, tren pasar, serta manajemen risiko yang terukur. Oleh karena itu, pada artikel ini sinyal tetap 'no' dan kami fokus pada konteks fundamental sebagai landasan pembelajaran.

broker terbaik indonesia