Deutsche Bank Perkirakan PDB AS Q4 2025 Turun Menjadi 2,5% Didorong Shutdown dan Inventori

trading sekarang

Laporan ini merangkum analisis Deutsche Bank terhadap perkembangan PDB riil AS. Para ekonomnya memperkirakan pertumbuhan Q4 2025 turun menjadi 2,5% dibandingkan 4,4% pada kuartal sebelumnya. Penurunan momentum sebagian besar berasal dari shutdown pemerintah yang panjang, yang menahan aktivitas dan memperlambat belanja rumah tangga serta investasi. Fakta tersebut menjadi penentu utama materi pembahasan para investor mengenai jalur kebijakan di awal 2026.

PFDP, yaitu penjualan final swakel kepada pembeli domestic, diperkirakan melambat. Sementara data pesanan barang tahan lama dan data perdagangan akan membantu menyempurnakan gambaran pertumbuhan serta pandangan inventori. Rilis data tersebut dalam beberapa minggu ke depan diharapkan mengubah proyeksi sebagian besar dinamika permintaan domestik.

Yang perlu diperhatikan adalah rilis pendahuluan PDB Q4 dan angka pendapatan serta konsumsi pribadi Desember yang keluar pada Jumat mendatang. Data tersebut menjadi input utama dalam membentuk ekspektasi pasar untuk permulaan 2026. Meskipun perlambatan terlihat, kontribusi bersih dari perdagangan luar negeri diperkirakan tetap positif karena impor lebih lembut, sehingga risiko terseretnya pertumbuhan menurun bisa dihadapi dengan stabilitas yang relatif.

Perdagangan bersih diperkirakan kembali menjadi kontributor positif untuk PDB AS, didorong oleh perlambatan impor. Laporan perdagangan internasional Desember akan membantu merinci asumsi tim, begitu pula data perdagangan barang tahan lama yang lebih lanjut akan mengarahkan pandangan terhadap inventori. Dengan demikian, dinamika ini membantu menyeimbangkan gambaran permintaan domestik menjelang 2026.

PFDP diperkirakan melambat menjadi 2,0% dari 2,9% di Q3, meskipun risiko berada pada sisi yang lebih tinggi. Faktor-faktor tersebut membuat fokus pasar berputar pada rilis data terbaru untuk menilai tingkat permintaan rumah tangga. Data ini juga akan mempengaruhi pandangan terhadap bagaimana kebijakan moneter berjalan ke depan.

Data perdagangan akan memandu perencanaan inventori dan arah kebijakan finansial, sehingga mempengaruhi ekspektasi untuk paruh pertama 2026. Analisis ini menekankan pentingnya pernyataan kebijakan dan angka inflasi dalam menentukan langkah investor. Kondisi ini menuntut perhatian terhadap volatilitas pasar dan timing pelaporan perusahaan.

Untuk pasar yang mencoba menilai denyut permintaan inti, PFDP tetap menjadi ukuran utama yang dipantau oleh pejabat Federal Reserve. Laporan PFDP memberikan gambaran tentang seberapa kuat permintaan domestik berjalan. Investor menilai sinyal tersebut untuk mengasah strategi investasi dalam beberapa kuartal mendatang.

Meskipun PFDP melambat, kontribusi positif dari perdagangan bersih menambah dinamika yang perlu diperhatikan investor. Indikator ini membantu menyeimbangkan risiko jika pertumbuhan melambat. Pasar juga menilai respons kebijakan moneter sebagai kunci bagi pelaksanaan strategi keuangan di 2026.

Dengan risiko cenderung ke arah potensi lebih tinggi, pasar diharapkan menantikan pembaruan data dan pernyataan kebijakan untuk menilai langkah selanjutnya. Investor perlu menjaga fokus pada data terbaru serta arahan bank sentral untuk rencana keuangan di 2026. Kondisi global juga dapat mempengaruhi jalur pertumbuhan di masa datang.

broker terbaik indonesia