Riset Standard Chartered oleh Razia Khan menunjukkan CPI Nigeria Januari bergerak turun ke sisi bawah, dengan inflasi headline tertahan pada 15.1% year-on-year setelah diseluruh penurunan bulanan sebesar 2.88%. Perubahan ini mencerminkan dinamika harga yang berubah dan menambah fokus pada bagaimana kebijakan moneter akan disesuaikan ke depan.
Dengan data CPI yang direbas, bank memperkirakan rata-rata CPI 12.0% di 2026, naik menjadi 13.8% di 2027 dan 13.3% di 2028. Revisi ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi tetap berada pada level yang signifikan meski disinflasi menambah ruang bagi kebijakan yang lebih longgar.
Meskipun ada ruang bagi Bank Sentral Nigeria (CBN) untuk melonggarkan kebijakan mulai Februari, tekanan inflasi inti dan inflasi 12 bulan tetap menjadi alasan untuk berhati-hati. Disinflasi membuka peluang untuk potongan suku bunga secara bertahap, tetapi risiko fiskal, harga pangan yang meningkat, serta potensi pendapatan minyak yang menurun tetap perlu diperhatikan.
Disinflasi memberikan ruang bagi kebijakan pelonggaran dari Februari, meskipun tingkat inflasi inti masih tinggi. Banyak analis memperkirakan hingga 900 basis poin pelonggaran dalam dua tahun ke depan, namun laju pemangkasan perlu dijaga agar tidak menekan stabilitas harga lebih lanjut.
Target inflasi transisi yang ditetapkan CBN untuk 2026 adalah 16.5% +/-2 poin persentase dan untuk 2027 13.0% +/-2, panduan ini menggambarkan arah kebijakan yang menyeimbangkan antara pertumbuhan dan stabilitas harga.
Faktor risiko fiskal menjelang pemilu 2027, kenaikan harga pangan, peningkatan ketidakamanan, dan potensi penurunan pendapatan minyak bisa menguji komitmen terhadap anchor inflasi. Risiko-risiko ini menambah pentingnya pemantauan dinamika fiskal dan biaya energi.
Disinflasi membuka peluang bagi penyesuaian kebijakan yang bisa mengubah dinamika pasar, termasuk pergerakan FX dan obligasi jangka menengah. Investor sebaiknya memperhatikan sinyal kebijakan sambil menilai faktor eksternal seperti harga minyak dan volatilitas pasar global.
Data CPI yang direvisi memengaruhi ekspektasi imbal hasil dan jalur kebijakan yang mungkin lebih longgar dapat mendorong pergerakan pada NGNUSD serta aset berisiko secara umum, meskipun tetap tergantung pada stabilitas pendapatan energi.
Bagi investor, sikap yang hati-hati dianjurkan: lakukan diversifikasi, awasi rilis inflasi berikutnya, dan sesuaikan risiko dengan ekosistem makro. Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight.